suplemenGKI.com

Kejadian 9:18-29

MEMILIH SIKAP HIDUP YANG MENUAI BERKAT, BUKAN KUTUK

 

Pengantar
Nuh adalah petani pertama dan sukses membudidayakan tanaman anggur: “Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur”(ayat 20). Namun bersama dengan datangnya kesuksesan itu, masalah juga datang menyusul. Dan ini bermula dari hal-hal yang sepele sepertinya, namun karena tidak awas pada akhirnya menciptakan kerusakan yang cukup berat.

 

Pemahaman

  1. Perhatikan reaksi dari ketiga anak Nuh: Sikap apa yang paling membedakan diantara ketiga anak ini pada saat menghadapi kejatuhan sang ayah karena mabuknya?
  2. Perbedaan apakah yang akhirnya diterima oleh anak-anak Nuh untuk masa depan mereka?
  3. Apa yang dapat Anda pelajari dari peristiwa ini dan dari karakteristik orang-orang di dalamnya?

 

Dalam kemabukannya, Nuh tidak sadar sampai telanjang di dalam kemahnya. Nuh kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan ini menjadi pemicu dan bahkan menuai masalah besar dalam keluarganya dan keturunan-keturunannya.

Ham, salah seorang anak Nuh, ketika melihat kejadian itu ia pergi menceritakan kepada kedua saudaranya tanpa melakukan sesuatu untuk menutupi kejatuhan ayahnya tersebut. Sama seperti Ham, beberapa dari kita bersikap salah dalam merespon kejatuhan saudara dengan cara mempercakapkan atau menghakiminya. Kita begitu cepat untuk melihat kelemahan atau kejatuhan orang lain dan senang mempercakapkannya. Sikap Ham ini mengalirkan kutuk. Berbeda dengan Sem dan Yafet, kedua anak yang lain dari Nuh. Mereka menutupi aurat Nuh dengan kain sambil berjalan mundur (lih. 9: 22-23). Hal yang mengesankan dan patut dicontohi. Saat melihat kekurangan atau kesalahan yang diperbuat oleh orang lain, seharusnya kita peduli, bukan malah menceritakan keburukan orang lain atau menertawakan. Sem dan Yafet memperoleh berkat akhirnya.

Melalui peristiwa ini, pertama-tama kita diajak agar tidak terlena dengan pencapaian dan kenikmatan hidup hingga lupa diri dan menciptakan masalah yang serius bahkan berdampak jangka panjang seperti Nuh dan keluarganya. Kedua, sikap mawas diri ini akan membantu kita tahu menyikapi kesalahan orang lain dengan bijaksana sama seperti Sem dan Yafet, bukan seperti Ham.  Ketiga, pada akhirnya kita diingatkan bahwa pilihan dan reaksi/respons kita terhadap sebuah peristiwa atau kejadian tertentu akan  menentukan apa yang akan kita hadirkan dalam hidup kita, masalah atau kedamaian?

 

Refleksi
Pernahkah Anda salah mengambil keputusan/sikap yang akhirnya membawa masalah hadir dalam hidup Anda?  Renungkanlah seberapa banyak Anda melibatkan Tuhan dalam keputusan dan sikap Anda setiap hari sehingga Anda tidak salah melangkah?

 

Tekad:
Tuhan, tolonglah diriku untuk selalu berhati-hati dalam memilih dan bersikap, agar hidupku ada dalam limpahan berkat dan menjadi berkat bagi sesamaku. Amin.

 

Tindakan:
Berdoa secara khusus dengan waktu yang Anda khususkan untuk berbicara dengan Tuhan akan persoalan tertentu yang penting dalam hidup Anda, yang harus Anda pilih atau responi dengan bijak.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«