suplemenGKI.com

BERKARYA DALAM SITUASI SULIT

Kisah Para Rasul 4:5-12

 

PENGANTAR
George Whitefiel adalah seorang pengkhotbah dari Inggris, salah satu pendiri Gereja Metodis.  Whitefield lahir tahun 1714 dalam keluarga miskin di Glouchester.  Meskipun hidup dalam kekurangan, ibunya yang telah menjadi janda, berupaya mendukung studi Whitefield dengan baik.  Karena itu, ia bisa belajar di Universitas Oxford.  Tahun 1736, ia ditahbiskan menjadi pendeta.  Setelah itu, ia mulai berkhotbah di pelbagai tempat, mulai dari Glouchester hingga beberapa gereja besar di London. Tahun 1738, Whitefield bersama John dan Charles Wesley, dikirim Amerika Serikat untuk mengabarkan Injil.  Di Amerika Serikat, Whitefield berkhotbah di hadapan ribuan orang dan turut mempengaruhi munculnya kebangunan dari keterpurukan rohani.  Pada abad ke-18, tingkat kerohanian di Inggris juga sangat menurun. Sedikit sekali orang yang pergi beribadah dan mende­ngarkan pengajaran.  Maka, Whitefield kembali ke Inggris sehingga punya peran besar terhadap kebangunan rohani di Inggris abad itu.  Whitefield memberi hidupnya tetap berkarya dalam situasi sulit.  Mari kita pelajari bacaan hari ini!

PEMAHAMAN

  • Ayat 8      : Apakah dasar pijakan Petrus untuk tetap berkarya?
  • Ayat 11     : Apa berita yang disampaikan Petrus dalam situasi sulit?
  • Apakah saudara tetap mau dan mampu berkarya nyata dalam situasi sulit?

Sebelumnya kita bertemu dengan Petrus yang mengalami ketakutan dan kegagalan ketika menghadapi pertanyaan dari seorang perempuan secara berturut-turut di rumah Imam Besar (Luk.22:54-62).  Setelah Pentakosta, Petrus bersama-sama Yohanes menghadapi amarah para pembesar keagamaan Yahudi (ay.1-2), tetapi tidak gentar untuk memberitakan Injil.  Dalam perikop yang kita baca hari ini, dalam sidang yang sama yang telah menghukum Yesus dengan hukuman mati, Petrus dengan penuh keberanian memperhadapkan para pemimpin Yahudi kepada suatu fakta kuasa Yesus yang tidak dapat disangkal.

Dalam persidangan itu para pemimpin agama tidak dapat menyangkal bahwa si lumpuh memang telah disembuhkan karena kuasa nama Yesus (ay.9-10).  Petrus juga menyatakan bahwa sesuai dengan nas PL, Yesus Sang Mesias yang telah mereka tolak itu justru adalah bagian terpenting dari bangunan yang sedang didirikan Allah, yaitu umat-Nya (bdk.Luk.20:17).  Dengan penuh keberanian di depan persidangan itu Petrus menyatakan imannya “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (ay.12).  Keyakinan Petrus dan Yohanes yang didasarkan pada tuntunan Roh Kudus (ay.8) inilah yang menjadi dasar dari tindakan, perkataan dan keberanian mereka.  Dalam situasi yang tidak mudah itu, Petrus tetap menyatakan Injil dengan bertindak nyata bagi umat-Nya dan berani menyaksikan imannya.  Petrus berperan penting bagi kebangunan rohani abad itu.  

REFLEKSI
Mari merenungkan: orang percaya menjadi berani berkarya dalam situasi sulit bukan karena bakat dan kepandaian diri sendiri, tetapi karena Roh Kudus.  Roh Kudus memampukan bersaksi dan bertindak dalam ketaatan.

TEKADKU
Tuhan Yesus tolong aku untuk tetap berkarya nyata, sekalipun dalam situasi sulit di tempat kerja.  Agar teman-temanku mengenal kasih Tuhan.

TINDAKANKU
Aku mau menolong ……….. (pikirkan satu orang untuk hari ini) walaupun keadaan diriku dan sekitarku belum sepenuhnya baik-baik saja.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«