suplemenGKI.com

SAAT MENANGGUNG BEBAN SENDIRIAN

Ayub 19:23-27

 

Pengantar
Seorang penyintas Covid -19 mengalami trauma dengan kamar perawatan Rumah Sakit sebab ia pernah dirawat di ruang isolasi Covid -19. Saat itu dalam kesakitan ia merasa berjuang seorang diri sebab teman dan keluarga tak diperkenankan menjenguknya. Memang sungguh berat kalau di tengah penderitaan tak ada kerabat dan sahabat yang menemani. Bayangkanlah apa yang dirasakan Ayub saat menderita sakit, kehilangan harta dan anak-anak tapi istri dan para sahabat justru menghakiminya. Dia merasa ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya mendukung dan menguatkannya. Bila Saudara mengalami seperti Ayub, apakah yang akan Saudara lakukan? Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 23-24 : Apa yang sedang dialami Ayub sehingga dia menginginkan  perkataannya didokumentasikan?
  • 25-27     :  Bagaimanakah sikap iman Ayub di tengah penderitaannya?

Melihat kondisi Ayub yang sangat menderita, para sahabat Ayub tidak datang untuk menghibur dan menguatkannya tapi justru menghakiminya. Para sahabatnya tidak percaya bahwa Ayub tidak bersalah sebab pada waktu itu berkembang pemahaman bahwa penderitaan adalah buah dari dosa. Jadi kalau Ayub menderita, itu berarti telah berdosa di hadapan Tuhan.  Perkataan Ayub tidak dipercaya para sahabatnya maka  Ayub berharap perkataannya  dapat ditulis pada sebuah gulungan kitab (ay.23)  dan yang lebih tidak terhapuskan, diukir di atas sebuah batu (ay. 24 ). Dengan demikian kesaksian tersebut pasti akan diketahui masyarakat yang lebih luas yaitu oleh angkatan-angkatan yang kemudian. Namun sebenarnya Ayub tidak mendambakan pembenaran manusiawi namun pembenaran ilahi.

Pandangannya terarah kepada Tuhan, maka ia berkata dalam ayat 25, ” Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu “(ay.25).  Kata penebus (go’el) adalah tugas kerabat dekat. Adalah tanggung jawab kerabat dekat untuk memulihkan harta milik, kebebasan dan nama kerabatnya itu, dan jika diperlukan, memperbaiki juga kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat kerabat tersebut, khususnya jika kerabat tersebut telah menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Go’el mempunyai kewajiban untuk melindungi dan membela anggota keluarga yang lemah.

Ayub yakin bahwa Penebusnya hidup dan pada akhirnya akan memulihkan dirinya. Sekalipun dia tidak mengerti apa yang menyebabkan penderitaannya, dia tetap bertahan pada keyakinannya bahwa Allah pasti akan memulihkannya. Kata-kata Ayub ini sungguh luar biasa. Bagaimana mungkin dalam penderitaannya yang bertubi-tubi itu Ayub masih bisa mengatakan bahwa Penebusku hidup. Dan walaupun kulit tubuhnya sudah rusak dan tanpa daging, ia masih bisa melihat Allah? Itulah Ayub. Dalam kesedihannya ia menyatakan bahwa Allah akan menebusnya. Inilah gambaran iman Ayub akan Allah.

Refleksi
Dalam keheningan renungkanlah, apakah Saudara pernah mengalami penderitaan tanpa tahu mengapa harus menderita? Pernahkah Saudara merasa ditinggalkan kerabat dan sahabat padahal Saudara sangat membutuhkan dukungan mereka? Atau pernahkah Saudara merasa dihakimi oleh orang lain walaupun Saudara merasa tak bersalah? Dalam kondisi demikian, apakah Saudara tetap beriman akan pertolongan Tuhan ataukah malah kecewa pada Tuhan? 

Tekadku
Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk tabah dan setia beriman kepada-Mu meski didera penderitaan bertubi-tubi. Mampukanlah aku untuk menaruh pengharapan kepada-Mu lebih daripada pengharapan kepada manusia.

Tindakanku

  • Aku akan belajar tulus beriman kepada Tuhan.
  • Aku akan belajar menjalani hidup ini dengan ikhlas apa pun yang terjadi.
Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«