suplemenGKI.com

Amsal 31:22-31.

 

Ciri-Ciri Istri Yang Cakap (2)

Pengantar:

Kemarin kita telah membaca tentang ciri-ciri istri yang cakap bagian pertama. Jika kita hendak membahasakan mengenai istri yang cakap dengan semua ciri-cirinya, maka bisa dikatakan bahwa begitu berharganya, begitu berartinya dan begitu membahagiakan istri yang cakap bagi sang suami dan tentu juga bagi keluarganya.Hari ini kita akan melanjutkan untuk melihat ciri-ciri istri yang cakap bagian ke dua.

Pemahaman:

  1. Bagaimanakah peran seorang istri yang cakap untuk dirinya sendiri?
  2. Bagaimanakah respons anak-anak terhadap ibu yang cakap?
  3. Sesungguhnya apa yang hendak diajarkan oleh penulis Amsal dengan menampilkan sosok seorang isteri yang cakap ini?

Hari ini kita akan melihat peran seorang istri yang cakap untuk dirinya. Paling tidak ada tiga peran yang dilakukan untuk kepentingan dirinya sendiri, Pertama: Ia tetap menjaga penampilannya agar seimbang dengan makna hidupnya (v. 22, 24). Ke dua: Ia menjaga setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya agar setiap perkataannya adalah perkataan hikmat, pengajaran, lemah-lembut dan bernilai (v. 26). Ke tiga: Ia menjaga menu makanannya agar kesehatannya tetap terjaga (v. 27)  Dari ke tiga peran itu seolah-olah peran-peran itu demi kepentingan dirinya, tetapi sesungguhnya ke tiga peran itu juga adalah demi kepentingan orang lain atau pihak lain, hal itu tampak dari respon anak-anaknya dan suaminya.

Ketika anak-anak bangun pagi-pagi, mereka menyebut ibunya berbahagia, itu merupakan sebuah kebanggaan, pujian dan kasih anak-anak kepada ibunya yang cakap. Begitu pula sang suami, ia akan mampu melihat perbedaan antara istri yang cakap dengan perempuan lain yang tidak cakap, bahkan sang suami tidak akan terpesona dengan penampilan luar dari perempuan-perempuan lain yang hanyalah kebohongan belaka bila dibandingkan dengan istrinya yang cakap.

Hal terpenting dari kitab Amsal 31 ini adalah bahwa penulis menampilkan sosok istri yang cakap dengan segala perannya itu adalah untuk menggambarkan tentang hidup yang berhikmat. Tujuannya agar pembaca bisa membedakan hidup berhikmat dengan hidup yang tidak berhikmat (perempuan yang kemolekannya sia-sia v. 30) Jadi betapa pentingnya hidup berhikmat itu, ia seperti seorang suami mendapatkan istri yang cakap.

Refleksi:
Renungkanlah saudara, sudahkah kita hidup berhikmat? Jika belum mintalah agar Dia menganugerahkan hikmat itu kepada kita untuk menjalani hidup ini, agar hidup kita beruntung seperti seorang suami yang mendapatkan istri yang cakap.

Tekad:
Tuhan Yesus, seringkali saya menjalani hidup ini tanpa hikmat, sehingga sangat melelahkan, tolonglah anugerahkan hikmat-Mu kepada saya untuk menjalani hidup ini dengan benar.

Tindakan:
Saya mau menjadikan hidup ini bermakna bagi sesama, untuk itu saya akan menjadikan firman Tuhan sebagai sumber hikmat bagi hidup saya senantiasa.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*