suplemenGKI.com

Mengikut Allah Yang Mahatahu

Mazmur 139:1-6

Pengantar

Bagaimana perasaan kita bila ada orang yang mengetahui segala seluk beluk kita? Katakanlah orang itu tahu masa lalu kita, bukan hanya apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang kita ucapkan, bahkan apa yang kita pikirkan. Apakah kita senang dengan orang itu, atau malah sedih? Mari kita renungkan

Pemahaman

Ayat 1,3                : Mengapa Pemazmur berkata, “Engkau menyelidiki……” dan
“Engkau memeriksa……”? apakah Pemazmur mengatakan
bahwa Allah sedang mencari tahu?

Ayat 5                   : Apakah Pemazmur merasa terkekang dengan kemahatahuan
Allah, sehingga ia berkata “Engkau mengurung aku”?

 

Mazmur 139:1-6 ini berbicara tentang pemahaman Pemazmur bahwa Allah maha tahu. Allah mengetahui segala kegiatan Pemazmur, entah Pemazmur sedang duduk atau berdiri (ay. 2), maupun berjalan dan berbaring (ay. 3), termasuk segala pikiran Pemazmur. Bahkan Pemazmur menegaskan kalau Allah mengetahui pikiran itu dari jarak yang jauh, serta sebelum pikiran itu terwujud menjadi perkataan. Betapa luar biasanya kemahatahuan Allah itu.

Dengan pemahaman seperti di atas, maka ungkapan Pemazmur “Engkau menyelidiki……” (ay. 1) dan “Engkau memeriksa……” (ay. 3) tidaklah dapat dipahami sebagai tindakan Allah yang sedang mencari tahu. Akan lebih tepat kalau kedua ungkapan itu dipahami sebagai pernyataan bahwa Tuhan mengetahui sedalam-dalamnya – bukan hanya asal-asalan –pikiran, perkataan dan perbuatan manusia entah itu yang baik (berkenan kepada Allah) entah itu yang buruk.

Kemahatahuan Allah itu mengurung Pemazmur (ay. 5). Hal ini bukanlah dalam pengertian mengekang Pemazmur melainkan melindungi serta membimbing Pemazmur. Dalam Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari dikatakan, “Engkau mengelilingi aku dari segala penjuru, dan Kaulindungi aku dengan kuasa-Mu.” Karena itulah maka respon Pemazmur terhadap kemahatahuan Allah bukanlah perasaan takut, melainkan perasaan kagum, “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.” (ay. 6).

Refleksi

Allah mengetahui segala seluk beluk kita, sehingga kita tidak perlu bermain sandiwara di hadapan-Nya. Karena itu marilah kita datang kepada-Nya dengan segala keberadaan kita sambil memohon pimpinan-Nya.

Tekad

Doa: Ya Allah, kurunglah saya dalam kemahatahuan-Mu. Amin.

Tindakan

Saya akan meluangkan waktu 10 menit setiap pagi untuk berdoa memohon pimpinan-Nya

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«