Meninggalkan Allah = Kehilangan Hidup

Bacaan hari ini merupakan penutup dari rangkaian syair tentang keselamatan yang Tuhan berikan kelak kepada Yerusalem.  Yerusalem masih merupakan kota yang banyak reruntuhan dan tidak aman dan umat sudah jemu menantikan penggenapan keselamatan yang dulu sudah Allah janjikan melalui Yesaya.

  1. Ayat 1: Selain keadaan Yerusalem yang mengalami kehancuran secara fisik seperti yang sudah dijelaskan di atas, hal apa yang paling membuat sang nabi gelisah dan tidak dapat tinggal diam?
  2. Ayat 2-3: Perubahan apa yang akan dialami bangsa Israel pada saat Tuhan menyelamatkan?
  3. Ayat 4-5: Temukan beberapa istilah yang menggambarkan keadaan bangsa yang hidupnya jauh dari Allah! Istilah apa yang juga digunakan untuk gambaran keadaan yang sebaliknya?
  4. Perbandingan keadaan seperti apa yang dimaksudkan oleh nabi Yesaya dengan menggunakan berbagai istilah tersebut?
  5. Apa yang bisa Anda renungkan hari ini dari kerinduan nabi Yesaya dan juga pengharapannya akan pemulihan dari Allah?

Renungan

Keadaan Israel, Yerusalem khususnya sedang mengalami kehancuran. Yesaya melihat keadaan bangsanya seperti istri yang ditinggalkan suaminya. Sendirian dalam menjalani hidup dan keadaannya terasa hampa dan sunyi. Sunyi berarti tandus, seperti negri yang tidak memiliki kehidupan di dalamnya. Bangsa Israel seperti kehilangan kekuatan dan kebanggaannya, sandaran hidupnya.  Demikianlah ikatan antara Tuhan dengan umatNya digambarkan dengan persekutuan perkawinan, antara suami dengan istri. Kehilangan Tuhan adalah kehilangan segalanya dalam pandangan nabi Yesaya.

Namun dalam keadaan yang demikian, nabi tetap percaya bahwa ada saatnya Tuhan akan memulihkan umatNya sesuai janjiNya.  Pemulihan itu pada akhirnya akan mengembalikan bangsa Israel dalam hubungan bak suami istri, keterikatan yang sedemikian kuat dengan Tuhan, sehingga mereka akan disebut negeri ‘yang bersuami’ sebab Tuhan telah berkenan kepada mereka dan akan girang atas mereka.  Yesaya bukan semata meratapi kehancuran secara fisik yang dialami bangsanya, melainkan lebih dari itu kehancuran spiritual yang nampak jelas dibalik semua penderitaan mereka ditangkap dengan jelas oleh nabi Yesaya.  Dan itu yang membuat nabi ini gelisah dan tidak bisa tinggal diam. Ia begitu merindukan ada kebenaran yang kembali bersinar dari Yerusalem.  Bila kebenaran itu dimiliki oleh Yerusalem, maka semua keadaan mereka akan berubah dengan sendirinya. Kedudukan mereka di hadapan bangsa-bangsa lain kembali dipulihkan, terutama di hadapan Tuhan.

Mari kita belajar dari kepekaan nabi Yesaya untuk menangkap krisis kebenaran (spiritualitas) yang menjadi pemicu munculnya krisis dalam aspek-aspek hidup yang lainnya. Keberhasilan menangkap krisis yang sebenarnya pada akhirnya membuat Yesaya dapat menaikkan permohonan yang tepat kepada Tuhan dan merindukan pemulihan dalam hal yang tepat pula. Bukan secara jasmani yang terutama, tetapi pemulihan secara rohani dan pemulihan yang lainnya nanti akan mengikuti.

Meninggalkan Allah sama halnya dengan kehilangan segalanya untuk hidup

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*