suplemenGKI.com

Kejadian 45:1-15

MENGAMPUNI = MEMERDEKAKAN

 

Pengantar
Sekuat apapun seorang atlit angkat berat mengangkat barbel, tentunya dia tidak akan menahan terus barbel tersebut di pundaknya! Bayangkan bila dia terus mengangkatnya.  Pastilah dia tidak akan bisa melakukan pekerjaan lainnya.  Demikian pula dengan persoalan hidup manusia.  Hari ini, tidak ada seorangpun yang bisa terus menyimpan persoalannya, tanpa merasa terganggu hidup dan aktivitasnya.  Bacaan hari ini mengajarkan bahwa pengampunan itu memerdekakan.

 

Pemahaman
Ayat 1: Apa yang Yusuf rencanakan dibalik keinginannya meminta semua orang keluar dari ruangan, kecuali saudara-saudaranya?

Ayat 3: bagaimana respons dan perasaan saudara-saudara Yusuf  setelah ia memperkenalkan diri?

Ayat 4:  cukup dekatkan posisi Yusuf dengan saudara-saudaranya?  Mengapa demikian?

Ayat 15:  momen apa yang membuat saudara-saudara Yusuf berani bercakap-cakap dengannya? Apa yang mendorong keberanian tersebut?

Menarik memperhatikan respons saudara-saudara Yusuf, khususnya kakak-kakaknya.  Mereka “tidak dapat menjawabnya” (ayat 3).  Mungkin para saudara Yusuf masih tercengang mengetahui identitas penguasa yang berdiri di depan mereka, yang tak lain adalah Yusuf, saudara yang dulu mereka buang dan jual.  Wajar bila kemudian dikatakan mereka “takut dan gemetar menghadapi dia” (Yusuf).  Namun apapun yang mungkin ada di benak para kakak Yusuf, respons yang seperti ini menunjukkan betapa masa lalu itu sangat mempengaruhi mereka.  Tepatnya, meski sudah kurang lebih 15 tahun berlalu, peristiwa itu menjadi beban berat bagi kehidupan para kakak Yusuf (bdk dg pasal 42: 21, 22).  Syukurlah, Yusuf berkenan “mencium” dan “memeluk mereka” (ayat 15) sebagai tanda bahwa ia sudah mengampuni.  Itu sebabnya, para kakak Yusuf dapat dengan lega “bercakap-cakap dengan dia” (ayat 15).  Pengampunan Yusuf memerdekakan para kakaknya dari pengalaman traumatis yang mengganggu perjalanan masa depan mereka.

Ada kalanya, kehidupan yang kita jalani mungkin seperti pengalaman traumatis para kakak Yusuf.  Pengalaman masa lalu yang belum tuntas  pastinya akan menambah beban kehidupan.  Belum lagi persoalan hari ini yang sementara harus diselesaikan.  Semua itu seolah memenjarakan cita-cita dan kebahagiaan hidup.  Bila sudah begini, proses kehidupan normal akan terganggu dengan bayangan masa lalu.  Apa yang bisa dilakukan?  Dari perikop ini, kita bisa belajar bahwa mengampuni (bagi Yusuf) dan diampuni (bagi kakak-kakaknya) akan memberi kemerdekaan hidup.  Mengampuni artinya, menerima masa lalu sesulit apapun itu menjadi bagian yang membentuk diri kita.  Mengampuni juga berarti bersedia menemukan maksud Tuhan dibalik peristiwa yang terjadi, sebagaimana yang Yusuf saksikan, “sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu” (ayat 5).  Bukan hal yang mudah, tapi percayalah, untuk persoalan apapun yang kita alami, kemerdekaan hidup melalui pengampunan hanya mungkin terjadi di dalam kekuatan dan pertolongan Tuhan.

 

Refleksi
Pengampunan hanya mungkin terjadi di dalam kekuatan dan pertolongan dari Tuhan.

 

Tekadku
Aku mau berdamai dengan masa lalu, masa kini dan masa depanku.

 

Tindakanku
Aku mau menyelesaikan  persoalan yang mungkin hari ini sengaja aku simpan supaya aku mempunyai kemerdekaan menjalani kehidupan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*