suplemenGKI.com

Bacaan : Mazmur 116:1-9

TETAP SETIA WALAU DALAM KESULITAN.

 

Umat Tuhan dalam Mazmur 116 dalam kondisi yang miskin dan sederhana, tetapi mereka mampu menunjukkan sikap dari seorang murid Tuhan.

Pertanyaan Penuntun :

  1. Apa yang sedang dialami pemazmur?
  2. Bagaimana ungkapan pemazmur dalam menyaksikan respon imannya?
  3. Sebagai orang percaya, bagaimana seharusnya sikap kita ketika mengalami kesesakan atau kesukaran?

RENUNGAN

Pemazmur mengalami kegentaran yang luar biasa, karena kuasa maut, kesesakan dan kedukaan sedang melingkupi hidupnya. Tetapi dalam kondisi tertekan, pemazmur meletakkan rasa percayanya kepada TUHAN. Dan Tuhan telah mendengar suara dan permohonannya, membebaskannya dari cengkeraman maut dan keputusasaan, menyelamatkannya dan menyatakan kebaikanNya. Karena itu pemazmur tidak lagi berfokus pada tali-tali maut yang telah melilitnya, kesesakan dan kedukaan, kelemahannya maupun ketertindasannya.

Sebagai umat Tuhan yang mengalami tekanan kita seharusnya mencontoh sikap pemazmur, pemazmur justru dapat menyaksikan respon imannya dengan berbagai ungkapan : aku mengasihi Tuhan (ay.1), aku menyerukan nama Tuhan (ay. 4), aku percaya sekalipun aku tertindas (ay.10), aku mengangkat piala keselamatan (ay. 13), aku membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya (ay. 14), aku hambaMu (ay. 16), dan aku mempersembahkan korban syukur kepadaMu (ay. 17).  Hanya orang yang telah mengalami karya Tuhan yang dapat mengatakan hal tersebut dengan tulus.

Kasih kepada Allah adalah sebuah perintah (Mat. 22:38). Kasih itu hendaknya dilakukan dengan segenap hati dan disebabkan karena kasih Allah kepada kita. Kasih kepada Dia yang seperti ini harus diwujudkan dengan mencari, menaati, melayani dan memilih Dia ketimbang yang lainnya dan dengan memikul salib.

Ada seorang ibu bernama Margaret, ia adalah seorang yang pantang menyerah. Lebih dari 90 tahun pengalaman iman telah membuat dia menjadi berkat bagi banyak orang. Ia mengalami berbagai penderitaan fisik, pendengaran makin berkurang, dan tubuh makin sulit digerakkan, tetapi Margaret masih mampu menjangkau banyak orang. Dia berdoa bagi orang-orang yang berkunjung di panti jompo tempat dia tinggal, juga penghuni-penghuni yang lainnya. Dia juga berdoa bagi utusan-utusan Injil yang tersebar di seluruh daerah. Setiap hari, setiap kali selama beberapa jam, ia duduk di kursinya dengan setumpuk kartu doa dan berdoa dengan tekun.  Kadang-kadang ia memaksa tubuhnya yang lemah untuk berlutut, dengan lututnya yang rapuh, di samping tempat tidurnya dan berbicara kepada Allah.

Margaret tidak memiliki apa-apa selain doa yang dipersembahkan kepada Tuhan. Apa yang dilakukannya menjadi inti dari pertanyaan yang terdapat di Mazmur 116, “Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikanNya kepadaku?”. Margaret memberi teladan tentang hidup yang terpelihara dalam kasih, anugerah, dan kemurahan Allah.  Meski menghadapi kelemahan fisik yang semakin berat, ia tetap kuat secara rohani sampai akhir hidupnya.

Bagaimana dengan anda ? Sebagai orang percaya, kita diharapkan dapat menyaksikan iman, khususnya melalui kesaksian verbal, sekalipun kita tidak luput dari kelemahan, ketertindasan maupun kedukaan. Tuhan beserta kita.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*