suplemenGKI.com

Selasa, 02 Juli 2013

01/07/2013

Yesaya 66 : 10-24 [ 10 – 14 ]

 

Sukacita atas pertolongan Tuhan

 

Pengantar:
Pernahkah anda mengalami pergumulan berat, yang menyesakkan sampai melampaui batas?
Siapakah yang anda pikirkan ketika anda mengalami pergumulan berat yang menyesakkan tersebut? Menurut Ilmu jiwa, bilamana seseorang diliputi kesusahan yang melampaui batas kemampuannya, maka timbul keinginan untuk kembali ke masa kanak-kanaknya, ketika Ibunya dengan penuh kasih sayang memeluknya, membelainya dan menggendongnya berusaha menenangkan kita yang sedang menangis, dan kita akan merasa aman berada dalam pelukan sang Ibu.

Pemahaman :

1. Kepada siapa seruan sukacita itu ditujukan ?   [ ayat 10 – 11 ] Mengapa ?
2. Damai sejahtera yang dari Allah dilukiskan dengan apa ?   [ ayat 12-14 ]
3. Apa yang akan dilakukan Allah kepada hamba-hambaNya dan kepada musuh-musuhnya ? 

Berita keselamatan di kiaskan dengan kelahiran. Yerusalem dikiaskan dengan seorang Ibu yang melahirkan anak-anak yang besar jumlahnya, keajaiban kelahiran itu dilukiskan dengan baru saja Ibu merasa sakit, sudah lahir puteranya, bahkan hanya satu dua anak yang lahir melainkan umat baru baru seluruhnya. Itulah gambaran keselamatan, pembebasan umat Israel. sehingga mereka harus menyambutnya dengan penuh sukacita. Seruan “bersukacitalah bersama-sama Yerusalem dan bersorak-soraklah kerenanya”, merupakan sukacita yang terjadi setelah masa penghakiman Allah berakhir. Penghakiman Allah dipahami, sebagai bagian dari pemeliharaaan Allah dalam kehidupan umatNya yang bukan saja penghukuman tetapi juga mengandung pengalaman sukacita didalamnya.

Pengalaman sukacita dapat dipahami ketika ada relasi yang akrab antara Allah dengan manusia. Persekutuan  kedua pihak menjadi landasan di sukacita itu. Hal ini dijelaskan dengan gambaran relasi seorang ibu dengan bayinya ( anak ). Sang Ibu memberikan air susu untuk menghidupi bayinya [ayat 11], si bayi juga memiliki ketergantungan umat kepada pencipta sehingga sukacita itu dapat mengalir dari sumbernya yaitu Tuhan sendiri. Karena itu persekutuan dengan Tuhan adalah awal dan dasar dari sukacita dan rasa syukur yang tidak hanya sementara tetapi terus kita alami. Oleh sebab itu  kita harus terus menjaga agar persekutuan kita dengan Tuhan harus tetap terjalin sehingga kita menjadi umat Tuhan seperti rumput yang baru di potong yang bertambah lebat dan mengalami damai dan sukacita.

Refleksi :
Ambillah waktu sejenak ! Renungkanlah bahwa Tuhan adalah sumber sukacita !
jika saudara ingin memiliki sukacita itu maka hiduplah dalam persekutuan dengan Tuhan secara rutin !
Apakah saudari telah melakukannya ?

Tekadku :
Ya Tuhan, saya ingin memiliki sukacita yang sejati itu !”

Tindakanku:
Mulai hari ini saya harus mengejar dan memiliki sukacita  sejati itu. Dan itu adalah dari Tuhan  oleh sebab itu saya harus terus memiliki persekutuan dengan Tuhan agar sukacita sejati itu  saya miliki.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«