suplemenGKI.com

Markus 9:2-9
Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” (Markus 9:7)

Pada hari ini, menurut kalender gerejawi, kita memasuki minggu transfigurasi. Ini adalah minggu terakhir sebelum kita memasuki rangkaian minggu Paskah, yang diawali dengan rabu abu tiga hari lagi. Dalam minggu transfigurasi ini, kita diajak untuk merenungkan kisah bagaimana Tuhan Yesus mengalami transfigurasi atau berubah rupa di atas sebuah gunung. Tidak dijelaskan nama gunung tersebut, tapi yang pasti ada kemuliaan yang nampak dalam peristiwa transfigurasi itu. Tentu ada banyak hal yang dapat kita renungkan melalui peristiwa transfigurasi ini, dan salah satunya adalah terdengarnya sebuah suara yang berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (ay. 9)
Kalimat ini bukanlah untuk pertama kalinya terdengar. Sekitar tiga tahun sebelumnya, kalimat tersebut juga pernah terdengar, yaitu ketika Kristus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. Peristiwa pembaptisan Kristus tersebut memiliki peran yang sangat penting karena merupakan tonggak dimulainya pelayanan Kristus di dalam dunia. Dan kini, setelah tiga tahun berselang, di mana selama kurun waktu tersebut Kristus terus menerus melayani, suara itu kembali terdengar. Peristiwa transfigurasi ini juga memiliki perang yang sangat penting dalam kiprah pelayanan Kristus sebab setelah peristiwa ini Kristus kemudian pergi ke wilayah Yudea, memasuki kota Yerusalem, untuk memasuki minggu terakhir inkarnasi-Nya, memasuki babak akhir dari seluruh rangkaian tugas-Nya yang berujung pada kematian-Nya di atas kayu salib.
Melalui pernyataan “Inilah Anak yang Kukasihi”, Bapa Surgawi seakan menunjukkan dukungan-Nya terhadap Putra Tunggal-Nya dalam mengemban amanat mulia, menyelamatkan umat manusia. Ketika Kristus mengawali karya-Nya, Bapa Surgawi memberikan peneguhan, dan ketika Kristus memasuki tahap yang berat dalam pelayanan-Nya, yaitu pengorbanan-Nya di atas bukit Golgota. Ini adalah tantangan yang berat dalam kehidupan Kristus, dan itu sebabnya Kristus sampai meneteskan keringat bak tetesan darah ketika bergumul di taman Getsemani untuk menerima salib itu.
Biarlah kita juga boleh menjadi anak-anak Allah yang dikasihi-Nya, anak-anak yang dengan setia mengerjakan kehendak-Nya. Selama kita menjalankan kehendak-Nya, maka Bapa Surgawi takkan pernah meninggalkan kita berjalan sendiri. Dia selalu memberikan peneguhan dan penguatan, terutama ketika kita membutuhkannya.

- – - RaZaMu – - -

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*