suplemenGKI.com

KAU SAUDARAKU

Matius 18:15-17

 

Pengantar
Seorang suami dibunuh oleh istrinya sendiri setelah terbongkar kasus perselingkuhannya. Berita amarah dan dendam seperti ini mewarnai percakapan dan berita media sehari-hari. Nada ketidakpuasan, iri hati, kekecewaan, sakit hati, dan kehilangan, bagai api menyulut bensin, tak seorang pun kuasa memadamkan. Demikianlah keadaan masyarakat kita yang mudah digiring kepada dendam membara, bahkan seringkali tanpa pemahaman yang jernih akan duduk permasalahannya. Masih mungkinkah gema pengampunan terdengar di tengah dendam membara? Marilah kita merenungkannya! 

Pemahaman

  • Ayat 15:  Mengapa peneguran dilakukan empat mata?
  • Ayat 16-17: Bagaimanakah prosedur peneguran bagi mereka yang keras hati? Mengapa akhirnya komunitas ( jemaat ) dilibatkan dalam proses peneguran bagi orang berdosa?

Bagian ini tak dapat dipisahkan dari perumpamaan YESUS tentang domba yang hilang (Matius 18:12-14). Hal penting yang perlu kita simak, di bagian akhir perumpamaan ini  ditutup dengan perkataan, “Demikian juga Bapamu yang di Sorga tidak menghendaki supaya seorang dari anak-anak ini hilang” (ayat 14). Dalam semangat itulah kita memahami pentingnya membawa kembali orang yang berdosa kepada TUHAN. Bahkan di bagian selanjutnya (Matius 18:21-35) TUHAN YESUS  mengajar dengan jelas bahwa pengampunan TUHAN sebagai dasar pengampunan terhadap sesama tidak ada batasnya.

Dalam ayat 15,  digunakan kata saudara untuk menunjukkan orang yang seiman, yang dipandang sebagai anggota keluarga ALLAH. Jadi karena kita semua bersaudara, bila ada yang menyimpang ke jalan lain harus kita tegur (peringatkan) bukan untuk menghukum atau menjatuhkan namun untuk mengajaknya kembali ke jalan kebenaran. Dalam semangat kasih persaudaraan yang penuh pengampunan, kita harus berjuang untuk mengembalikan dia yang berdosa dengan kelembutan. Ada proses dan prosedur yang perlu diperhatikan agar saudara yang jatuh dalam dosa bisa diselamatkan. Berawal dari pendekatan pribadi, bila tidak berhasil perlu mendatangkan saksi dan terakhir melibatkan jemaat. Matius mengungkapkan dengan jelas peran komunitas jemaat yang mendukung. Namun bila belum berhasil, orang itu dianggap tidak mengenal ALLAH  karena hatinya tertutup buat ALLAH. Maka tanggungjawab terhadap orang itu dinyatakan selesai.

Tujuan akhirnya bukan penghakiman dan kemarahan namun gema pengampunan, nafas kasih sebagai saudara dan keluarga yang saling peduli. Hal seperti inilah yang perlu mewarnai sikap kita terhadap saudara yang harus dibimbing atau digembalakan secara khusus. 

Refleksi
Dalam keheningan, ingatlah bagaimana sikap Anda selama ini terhadap saudara atau teman yang jatuh dalam dosa: apakah sikap penghakiman yang menjatuhkan ataukah berani menegur dengan sikap lembut yang diwarnai pengampunan dan kasih yang menyelamatkan? 

Tekadku
Ya TUHAN, berikanlah aku kelapangan hati untuk mengasihi dan menyelamatkan saudara yang jatuh dalam dosa.

Tindakanku
Aku akan melakukan pendekatan khusus dengan penuh kasih pada anggota keluarga yang keras hati dan sulit untuk ditegur

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*