suplemenGKI.com

Sabtu, 8 Mei 2021

07/05/2021

MENELADANI SANG SAHABAT

Markus 10:42-45

 

PENGANTAR
“Bersama belum tentu sama” menjadi ungkapan yang menggambarkan para murid yang dalam keseharian bersama Yesus, namun secara pemahaman dan karakter belum meneladani Dia.  Dalam rangkaian perjalanan menuju Yerusalem, Yesus memanggil dan menegur mereka.   Kebenaran dibalik teguran itu menjadi perenungan kita agar selaku umat percaya, kita mau meneladani Yesus, Tuhan dan sahabat kita.  Mari kita membaca dan merenungkan!

PEMAHAMAN

  • Apa yang Yesus lakukan setelah mengetahui para murid marah? (ayat 42)
  • Apa pesan utama teguran Yesus kepada para murid? (ayat 45)
  • Sejaumana anda menghayati kebenaran yang Yesus sampaikan dalam kehidupan dan pelayanan?

Entah apa yang ada di pikiran Yakobus dan Yohanes, Yesus baru saja berbicara tentang fakta bahwa Dia akan diserahkan kepada para imam dan ahli-ahli Taurat, dihina, kemudian dihukum mati (ayat 32-34);  kedua saudara itu justru mengajukan permintaan seputar jabatan dan kuasa dalam “kemuliaan-Mu kelak” (ayat 37).  Parahnya, kesepuluh murid lain marah (ayat 41) karena mereka sebenarnya juga menginginkannya tapi seolah kehilangan kesempatan mengutarakannya.  Kebersamaan mereka dengan Yesus seolah tidak berdampak baik pada diri para murid.  Hal inilah yang membuat Yesus memanggil dan menegur para murid.  Yesus kembali menjelaskan prinsip pelayanan-Nya dan mengajak para murid untuk melakukannya.

Prinsip yang dimaksud adalah barangsiapa ingin menjadi besar dan terdahulu, maka ia harus menjadi yang paling kecil dan terkemudian.  Siapapun yang ingin maju, pertama kali harus bersedia menjadi hamba bagi semuanya.  Prinsip yang Yesus sampaikan bertolak belakang dengan pemahaman umum yang memerlukan tiga modal penting untuk meraih popularitas:  jabatan, kekuatan dan kuasa.   Namun tidak demikian bagi Yesus yang memahami jalan hidup sebagai bentuk pelayanan yang menghamba.  Yesus meluruskan pemahaman yang keliru dengan berkata, “barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,” (ayat 43).  Tugas utama seorang hamba adalah melayani.  Karena itulah Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani bahkan Ia rela memberikan hidup-Nya mati di kayu salib untuk menebus dosa seluruh umat manusia. 

Menjadi sahabat Kristus berarti harus memiliki hati hamba seperti Dia.  Artinya, siap untuk tidak dikenal, tidak dianggap dan tidak diperhitungkan oleh orang lain.  Tidak jarang masih ada pengikut Kristus yang melayani dengan harapan beroleh pujian dan hormat dari manusia.  Berbanding terbalik dengan Tuhan Yesus yang rela menanggalkan segala atribut kebesaran-Nya, kemuliaan-Nya dan ke-Ilahian-Nya menjadi seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia, sama sekali tidak memperhitungkan kepentingan diri-Nya.  Berhati hamba berarti juga melayani dengan penuh kerelaan, pengabdian dan kerendahan hati.   Sebagai sahabat, sepatutnya kita meneladani sikap Yesus dalam kehidupan.

REFLEKSI
Mari merenungkan: menjadi sahabat Kristus bukanlah hanya soal identitas diri tetapi sepatutnya bersedia mempraktikkan sikap hidup seperti Dia yang melayani sesama sebagai hamba. 

TEKADKU
Tuhan, tolonglah agar aku punya tekad yang kuat dan mampu meneladani sikap kehambaan-Mu yang rela melayani dan memberi yang terbaik bagi sesama dalam keluarga, pekerjaan dan pelayanan. 

TINDAKANKU
Mulai hari ini aku mau memperbaiki kesediaanku memberi dan melakukan yang terbaik dalam keluarga.  Begitu juga dalam pekerjaan dan pelayanan.  Bukan untuk mendapatkan pengakuan tentang diriku, tetapi sebagai wujud syukurku kepada Kristus, Sahabatku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*