suplemenGKI.com

Sabtu, 7 Maret 2015

06/03/2015

Yohanes 2:13-17

 

Bait Allah yang Disucikan

 

Pengantar
Pernahkah Saudara marah karena cinta? Hari ini kita akan merenungkan bagaimana cintatelah menjadi motivator dalam kegiatan dan aktivitas sehari-hari.

Pemahaman
- ay. 14            : Mengapa ada banyak pedagang di Bait Suci?
- ay. 15-16      : Mengapa Tuhan Yesus memandang keberadaan para pedagang itu sebagai sesuatu yang tidak baik?

Keberadaan para pedagang di Bait Suci itu sebenarnya bermula dari adanya suatu kebutuhan. Kebanyakan orang yang datang ke Bait Suci tentu bermaksud untuk memberikan korban kepada Allah. Di satu sisi, Taurat dengan jelas mengatakan bahwa binatang yang akan dipersembahkan tidak boleh cacat (Ula. 15:21). Sedangkan di sisi lain, kebanyakan orang tinggalnya jauh dari Bait Allah. Semakin jauh perjalanan yang ditempuh, semakin besar kemungkinan binatang yang dibawa mengalami luka. Hal inilah yang menimbulkan peluang bisnis. Menangkap peluang bisnis ini, para pedagangpun berlomba untuk memiliki stand penjualan yang dekat dengan Bait Allah, dan singkat cerita akhirnya para pedagang itu memperoleh tempat berjualan di dalam lingkungan Bait Suci.

Bukan hanya para pedagang yang ada di sana, tetapi juga para penukar uang. Hal ini dikarenakan setiap orang Yahudi harus membayar pajak tahunan sebanyak setengah syikal untuk perbendaharaan Bait Allah. pajak ini hanya dapat dibayar dengan “uang suci” yang berlaku di lingkungan Bait Allah itu. Uang yang bergambar pemimpin asing tidak akan diterima.

Baik pedagang binatang korban maupun para penukar uang itu, nampaknya berada di halaman luar Bait Allah. sebuah ruang berukuran sekitar 14 are, dan terpisah dari halaman dalam dengan tembok setinggi bahu. Orang non Yahudi tidak diperkenankan masuk ke halaman dalam. Mereka hanya boleh di halaman luar saja. Di halaman luar ini terdapat deretan pilar-pilar batu pualam yang diukir dengan indah serta disokong empat baris tiang penyangga. Atapnya terbuat dari kayu aras sehingga memungkinkan para pedagang bernaung di bawahnya.

Apa yang nampaknya baik itu malah membuat Tuhan Yesus marah, sehingga Ia kemudian mengusir para pedagang dan penukar uang itu. Dalam Injil Matius, Markus dan Lukas, Tuhan Yesus mengatakan bahwa para pebisnis itu telah mengubah Bait Allah menjadi sarang penyamun (Mat. 21:13; Mar. 11:17; Luk. 19:46). Hardikan Tuhan Yesus ini menyiratkan terjadinya bisnis kotor. Sedemikian kotornya sampai Ia menyamakan para pedagang itu dengan penyamun. Mereka merampok secara lahiriah, yakni dengan bisnis yang kotor, tetapi juga merampok secara batiniah, yakni mengusik ketenangan beribadah.

Refleksi
Semakin seseorang mencintai Tuhan, semakin orang itu tidak rela bila Tuhan diperlakukan secara tidak wajar. Kristus tahu bahwa perdagangan di Bait Allah itu telah menodai kekudusan Allah. Karena itu Dia tidak menjadi murka. Lalu, sejauh mana ketidakrelaan kita melihat Tuhan diperlakukan tidak wajar?

 

Tekad
Doa: Ya Allah, tolonglah saya untuk terus bertumbuh dalam kasih kepada-Mu, agar kami senantiasa memuliakan Engkau, bukan mempermalukan Engkau. Amin.

Tindakan
Saya akan mengirim sms tentang kekudusan Tuhan kepada paling sedikit lima orang, sebagai upaya untuk memuliakan Tuhan

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«