suplemenGKI.com

Kebebalan Hati

Markus 10:1-12

 

Pengantar
                Pernahkah saudara berjumpa dengan orang yang “sulit”. Sulit dalam pemahaman bahwa ia sudah diberitahu namun tidak mau tahu, sudah diperingatkan tentang kesalahannya malah menjadi marah, sudah dinasihati namun tidak mau mendengar dan melakukan yang baik. Bahkan ia selalu menganggap apa yang dipikirkan dan yang dilakukannya sudah benar. Orang-orang yang demikian sering kali justru mencari pembenaran untuk dirinya sendiri. Apa yang dikatakan Tuhan Yesus untuk orang-orang yang semacam ini?

Pemahaman
Ay 1, Apa yang menjadi kebiasaan Tuhan Yesus, ketika orang banyak berkumpul?
Ay 2-3, Apa yang diinginkan orang Farisi terhadap Yesus?
Ay 4-5, Apa yang dikatakan Yesus tentang kelalukan mereka terhadap pernikahan?
Ay 6-9, Apa yang Yesus katakan tentang pernikahan?
Ay 10-12, Apa yang Yesus ingatkan tentang perzinahan?

Seperti biasanya Tuhan Yesus, kehadiran-Nya selalu dinanti-nantikan oleh banyak orang, sehingga dimanapun Yesus berada maka disitu pula banyak orang yang datang untuk melihat dan mendengarkan apa yang diajarkan Tuhan Yesus.

Tidak dapat dihindari pula bahwa banyak orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala selalu hadir juga bersama-sama dengan orang banyak tersebut. Namun tujuan mereka bermacam macam, orang-orang Farisi ingin mencoba Yesus seberapa dalamnya pemahaman Yesus tentang Taurat Musa. Maka mereka bertanya kepada Yesus: Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya? Yesus dengan tenang menjawab: apa perintah Musa kepada kamu? Orang-orang Farisi menjawab: ”Musa memberikan izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai” Hal inilah yang terjadi di masyarakat Yahudi. Yesus memberikan jawaban kepada mereka” Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu”. Yesus mengingatkan kepada mereka bahwa karena kebebalan hati mereka, Musa mengijinkan dan menuliskan ini untuk mereka. Jadi karena mereka memaksa perceraian itu maka Musa mengijinkannya dengan membuat surat cerai.

Yesus menegaskan kembali bahwa sejak semula, sejak dunia diciptakan, laki-laki dan perempuan yang menikah akan meninggalkan ayah dan ibu dan bersatu dengan pasangannya. Mereka bukan lagi dua namun satu, hal ini tidak boleh diceraikan oleh manusia. Jadi dengan alasan apapun juga Yesus tidak pernah menyetujui adanya perceraian karena prinsipnya Allah yang menyatukan kedua insan tersebut.

Seharusnya orang-orang yang sudah menikah itu terhidar dari perzinahan. Namun kalau ada orang yang sudah menikah dan sengaja minta cerai dan menikah lagi ini dapat dikatagorikan sebagai perzinahan.

Refleksi
Ambil waktu untuk merenungkan: Apakah saya termasuk orang yang mudah untuk dinasihati atau sulit? Bagaimana saya memandang tentang pernikahan kudus di hadapan Allah?

Tekadku
Ya Tuhan, ampunilah kebebalan hati saya, ajarkan saya menjadi orang yang mau berubah untuk menjadi lebih berkenan kepada-Mu

Tindakanku
Hari ini saya akan lebih banyak mendengar nasihat orang lain ketimbang membela diri sendiri.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«