suplemenGKI.com

Markus 10:2-12

 

Antara Boleh dan Tidak

 

Konflik yang terjadi di dalam hubungan suami istri adalah jamak. Namun kalau kemudian ada upaya untuk menggiring konflik tersebut menuju perceraian, kita perlu untuk merenungkannya kembali dan kembali. Hari ini kita akan merenungkan pengajaran Kristus yang bermula dari orang Farisi yang datang dengan mengajukan pertanyaan, bolehkah bercerai. Mari kita renungkan pengajaran Kristus itu. 

- Menurut Saudara, mengapa angka statistik perceraian semakin lama semakin meningkat?

- Mengapa Musa mengijinkan diterbitkannya surat cerai? Apakah itu membuktikan bahwa Musa setuju dengan perceraian?

- Nasihat apakah yang Saudara berikan bila ada orang yang datang kepada Saudara untuk mengkonsultasikan keinginan hatinya untuk bercerai?

 

Renungan

Ketegangan hubungan Kristus dengan orang Farisi  kali ini berangkat dari pertanyaan yang diajukan oleh orang Farisi, Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya atau tidak. Menjawab pertanyaan ini, Kristus merujuk pada perintah Musa. Dia bertanya, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Ada dua hal yang dapat kita pelajari dari jawaban Kristus yang sangat baik ini.

Pertama, Kristus merujuk kepada Musa, sosok yang disegani oleh orang Farisi. Kadang, bila kita berjumpa dengan orang yang sulit untuk kita nasihati, maka salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah dengan berbicara melalui (termasuk melakukan rujukan kepada) orang yang dapat mereka terima dengan baik.

Kedua, melalui jawaban ini, maka Kristus menegaskan bahwa diri-Nya tidaklah antipati terhadap perintah Musa. Selama ini Kristus dicap oleh orang Farisi sebagai sosok yang tidak menghormati pengajaran Musa atau Taurat. Namun justru dengan merujuk pada pengajaran Musa, Kristus menjelaskan bahwa Dia tidak berniat meniadakan pengajaran Musa, melainkan meluruskan pemahaman-pemahaman yang tidak tepat atas Taurat tersebut. Dan inilah yang dilakukan Kristus.

Orang Farisi berpendapat bahwa Musa mengijinkan seorang suami untuk menceraikan istrinya, dengan cara memberikan surat cerai kepada istrinya tersebut. Inilah pemahaman yang keliru dan perlu diluruskan. Kristus mengatakan bahwa keberadaan surat cerai itu bukanlah sebagai wujud dimungkinkannya perceraian itu terjadi, tapi sebagai wujud kedegilan hati bangsa Israel. Henry menjelaskan bahwa pengertian kedegilan hati di sini adalah, kalau Musa tidak mengijinkan orang-orang yang degil hatinya itu untuk menyingkirkan pasangannya dengan menceraikan pasangannya tersebut, mereka – sekali lagi karena kedegilan hatinya – akan mengambil cara lain untuk menyingkirkan pasangannya itu, yakni dengan cara membunuhnya. Kristus mengajak orang-orang Farisi itu untuk melihat bukan pada poin diijinkannya menceraikan pasangan dengan memberikan surat cerai, sebagaimana yang dikatakan secara formal. Kristus mengajak mereka melihat alasan yang membuat Musa akhirnya mengeluarkan ijin tersebut.

Mempertegas pengajaran-Nya, Kristus mengingatkan bahwa barangsiapa menceraikan pasangannya dan kemudian ia menikah dengan orang lain, maka orang tersebut berbuat zinah. Hal ini juga berarti bahwa kehidupan orang tersebut tidak berkenan di hadapan Allah. Sebab Allah sendirilah yang memberkati bersatunya seorang pria dengan seorang wanita di dalam ikatan pernikahan. Dengan demikian bila kita “menghilangkan” pasangan kita dari dalam hidup kita, maka sama saja dengan “menghilangkan” Tuhan yang memberikati pernikahan tersebut.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«