suplemenGKI.com

Matius 15:24-30

MENOLAK DISKRIMINASI

 

PENGANTAR
Peristiwa konflik antar golongan yang masih marak menunjukkan bahwa manusia seringkali sulit  menganggap orang yang berbeda ras, bahasa, suku, status sosial, dan agama sebagai sesama yang patut dihargai.  Sikap yang membedakan orang lain berdasarkan latar belakangnya, bukan tidak mungkin terjadi juga di gereja.  Benarkah sikap demikian?  Bagaimana sikap Yesus dalam persoalan ini?

PEMAHAMAN

  • Ayat 21-22: Siapakah wanita dalam perikop ini dan bagaimana keadaannya?
  • Ayat 23-26: Apa makna perkataan Yesus kepada perempuan tersebut?
  • Apa yang saudara pelajari dari cerita ini?

Masyarakat sejatinya adalah komunitas yang dibangun di atas adanya perbedaan sejak awalnya.  Perbedaan etnis, keyakinan, pendidikan, ekonomi, cara pandang, adat dll adalah realita yang tidak bisa dianggap tidak ada.  Artinya berbeda itu pasti.  Tetapi yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita merespons perbedaan?  Bacaan hari  ini menyiratkan adanya persoalan yang bersumber dari perbedaan di lingkungan komunitas Yahudi, termasuk yang dipahami oleh para murid.  Perbedaan yang dimaksud terkait dengan peran wanita dalam sosial, etnis dan keyakinan, yang dalam perikop ini terfokus dalam diri perempuan Kanaan (ay.22).  Bagaimana Yesus menanggapi sikap diskriminasi ini?

Perkataan Yesus di ayat 24 dan 26 sebenarnya merupakan sindiran kepada para murid dan orang-orang Yahudi yang sedang mengiringi pelayanan-Nya.  Pertama, Yesus sedang memancing tanggapan dari para murid dengan cara berkata dan bersikap layaknya orang Yahudi membeda-bedakan orang lain.  Artinya, dibalik sikap Yesus tersebut, Ia sedang menegakkan ajaran yang seharusnya mereka turuti, yaitu tidak membedakan sesama berdasarkan etnis atau keyakinan.  Kedua, Yesus mengajarkan pentingnya berfokus pada persoalan yang dihadapi sesama lebih daripada ‘bungkus’ yang terlihat.  Kebenaran pengajaran ini, Yesus tunjukkan dengan cara  mengakui iman dan mengabulkan permintaan perempuan Kanaan yang menginginkan anaknya sembuh (ay.28).  Bagi Yesus, apa yang menjadi pergumulan perempuan Kanaan itu jauh lebih penting daripada apa yang dipersoalkan oleh komunitas Yahudi.  Dengan demikian Yesus menolak sikap komunitas Yahudi yang mudah mendiskriminasi orang lain hanya karena dianggap berbeda.  Sikap Yesus menunjukkan sikap Allah yang mengasihi manusia apapun latar belakangnya.

Ada kalanya, disadari atau tidak kita bersikap seperti para murid yang tidak bisa melihat manusia sebagai pribadi yang apa adanya.  Apalagi bila hal itu menyangkut stigma tertentu yang seolah melekat pada pribadi atau etnis tertentu, maka serta merta pikiran dan sikap kita turut membedakannya.  Kesungguhan kita mengasihi Tuhan justru diuji oleh bagaimana kita menerima orang lain menjadi bagian relasi hidup kita.    Allah yang kasih adalah pribadi yang menolak diskriminasi, apapun alasannya.  Kebenaran inilah yang seharusnya mendasari pikiran dan sikap kita kepada sesama.

REFLEKSI                                                                          
Mari merenungkan: adakah alasan-alasan tertentu yang membuat kita mudah membedakan orang lain berdasarkan latar belakangnya?

TEKADKU
Tuhan tolonglah aku memahami bahwa tidak ada alasan bagi Allah yang membenarkan diskriminasi.

TINDAKANKU
Aku mau mewujudkan tekadku dengan cara mengembangkan pikiran dan sikap yang tidak membedakan orang lain berdasarkan latarbelakangnya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»