suplemenGKI.com

Lukas 14:25-27

MENGIKUT YESUS, BUKAN TANPA SYARAT

Meskipun perikop ini secara cerita tampak tidak berurutan dengan bagian sebelum dan sesudahnya.  Namun dari segi penekanan berita tetap merupakan satu kesatuan, yaitu selain berbicara mengenai kerinduan hati Allah akan manusia,  juga pentingnya totalitas dalam mengikut Dia.

  • Bagaimana situasi perjalanan pelayanan Yesus yang diganbarkan di ayat 25?
  • Apa yang saudara rasakan bila perkataan Yesus di ayat 26 ditujukan kepada anda?
  • Apa yang Yesus katakan sebagai syarat untuk menjadi murid-muridNya? (26, 27)

RENUNGAN

Saya teringat pengalaman ketika diajak seorang paman masuk ke salah satu kompleks militer.  Di pos depan kami diminta turun dari mobil.  Petugas yang melayani tampak serius, tidak senyum dan matanya terus mengawasi gerak-gerik kami.  Setelah petugas itu meminta  identitas dan mencatat maksud kedatangan, kami diijinkan masuk.   Namun dari semua prosedur yang harus kami lewati , ada satu kalimat menarik yang tertulis di papan panjang yang menghadap ke arah jalan masuk kompleks.  Di papan panjang  berwarna  hijau itu, tertulis kalimat warna merah, “Lebih Baik anda Mundur daripada Ragu-ragu.”  Tidak jelas maksudnya, tapi saya percaya kalimat itu mewakili kemantapan keputusan dan kesigapan yang harus  ada dalam diri calon prajurit sebelum digembleng.  Hal ini diperlukan mengingat tugas berat yang diemban prajurit untuk menjaga keutuhan teritorial negara.  Bisa dibayangkan apa jadinya bila seorang calon tidak yakin dengan panggilannya sebagai prajurit.  Pengabdian sebagai prajurit membutuhkan keyakinan dan tekad yang kuat.  Hal yang sama berlaku pula dalam pelayanan.  Artinya, Yesus yang adalah Allah menerima manusia apa adanya;  dan di dalam kedaulatanNya, Ia berhak memanggil dan memakai siapa saja menjadi muridNya.  Namun   mengikut Dia bukan berarti tanpa syarat. Itu sebabnya sekalipun, “banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalananNya” (25) tapi sedikit yang bersedia menjadi murid.  Banyak orang yang hanya berhenti sebatas menjadi penggemar, karena belum berani memberi hidupnya bagi Yesus.  Dengan kata lain, menjadi murid Yesus mensyaratkan persembahan hidup secara total bagi  Dia dan pelayanan.

Totalitas pelayanan dapat “diukur” dari prioritas hidup.  Kata-kata Tuhan Yesus bahwa seorang pengikut Yesus harus membenci orang tua, suami-istri, dan saudara-saudaranya (ayat 26), sebenarnya bermaksud menegaskan prioritas hati lebih kepada Yesus daripada kepada hal-hal lain, termasuk kepada dirinya sendiri.

Untuk itulah Yesus mengajukan dua ilustrasi yang menegaskan kesungguhan hati mengikut Dia. Seorang yang mau membangun menara (mungkin sekali menara pengawas kebun anggur) harus memperhitungkan anggarannya supaya jangan sampai hanya separuh jalan sudah defisit, akhirnya terbengkalai (ayat 28-29). Atau, seorang yang mau pergi berperang harus memperhitungkan kekuatan lawan dengan kekuatan pasukannya untuk memastikan kemenangannya (ayat 30-32). Kedua ilustrasi ini menyimpulkan satu hal, yaitu seseorang harus memperhitungkan sungguh-sungguh harga yang harus dibayar dalam mengikut Tuhan, baru dengan demikian ia layak disebut murid Tuhan (ayat 33).

Murid Tuhan yang setengah-setengah sama saja dengan tidak berfungsi apa-apa.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*