suplemenGKI.com

Menjaga Api Tetap Menyala

Matius 5:13-16

Pengantar

Ada sebuah kisah tentang lilin kecil yang dibawa oleh seorang pria menaiki tangga yang cukup tinggi, menuju sebuah menara. Di dalam perjalanan mereka menaiki tangga tersebut, lilin kecil bertanya, “Kita hendak kemana?”

“Kita akan naik lebih tinggi dan akan memberi petunjuk kepada kapal-kapal besar di tengah lautan yang luas.”

“Mana mungkin aku bisa memberi petunjuk kepada kapal-kapal besar dengan cahayaku yang sangat kecil? Kapal-kapal besar itu tidak akan bisa melihat cahayaku,”

“Itu bukan urusanmu. Jika nyalamu memang kecil, biarlah. Yang harus engkau lakukan adalah tetap menyala dan urusan selanjutnya adalah tugasku,” jawab pria itu.

Tidak lama sampailah mereka di puncak menara dimana terdapat lampu yang sangat besar dgn kaca pemantul yang tersedia di belakangnya. Pria itu menyalakan lampu besar dengan memakai nyala lemah si lilin kecil. Dalam sekejap, tempat itu memantulkan sinar yang terang benderang sehingga kapal-kapal yang ada di tengah laut melihat cahayanya.

Pemahaman

Ayat 13 – 14: Perasaan seperti apakah yang kita rasakan pada waktu mendengar ungkapan “Kamu adalah garam dunia” dan “Kamu adalah terang dunia”

Frasa “Kamu adalah garam dunia” dan “Kamu adalah terang dunia” tentu tidaklah asing di telinga kita, orang percaya. Sudah sangat sering, bahkan mungkin terlalu sering kita mendengarnya, pun juga membacanya. Kalau diminta untuk menjabarkan hal-hal yang terlintas di benak kita pada waktu “bertemu” kembali dengan kedua ungkapan tersebut, mungkin kita bisa menuliskan berderet-deret kalimat. Tapi kalau ditanya soal perasaan, mungkin akan mengerucut pada 2 (dua) perasaan utama, yaitu bangga dan berbeban berat.

Merasa bangga sebab berarti sumbangsih kita sebagai garam dan terang itu sangatlah besar. Misalnya saja berbicara tentang fungsi garam yang berguna untuk mencegah terjadinya kebusukan, dan fungsi terang yang menghalau kegelapan. Tentu hal ini menjadi amatlah penting, apalagi kalau kita mengingat adanya berbagai macam kebusukan yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup dalam kegelapan di negeri Indonesia ini. Akan tetapi maraknya berbagai bentuk kebusukan yang terjadi, sekaligus menjadi indikator pekatnya kegelapan yang ada, menjadi beban tanggungjawab yang tidaklah ringan. Realita hidup yang demikian merupakan beban yang berat. Mampukah kita menjadi garam dan terang dunia, bila beban tanggungjawab yang harus dipikul dalam skala nasional saja sudah seberat ini?

Refleksi

Bila kita merasa tanggungjawab terlalu besar, marilah fokus pada tanggungjawab utama kita, yaitu menjaga agar api kita sebagai lilin tetap menyala.

Tekad

Doa: Ya Tuhan, tolonglah saya untuk tetap setia menjaga api dalam diri ini. Amin.

Tindakan

Saya akan berjuang untuk menjaga agar diri saya tetap menyala.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«