suplemenGKI.com

Hukum Utama: Hukum Hidup bagi Allah

Markus 12:28-34

 

Pengantar

Seorang ahli Taurat adalah orang yang mempelajari dan menafsirkan hukum Taurat secara teliti. Mereka memang dilatih untuk mengembangkan ajaran Taurat, mengajar murid-murid baik melalui lisan maupun tulisan dan menerapkan hukum Taurat dalam lingkungan orang Yahudi. Hari ini kita akan merenungkan bagaimana diskusi antara seorang ahli Taurat dengan Kristus.

Pemahaman

Ay. 28    : Mengapa ahli Taurat itu bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Adakah hukum itu berperingkat?

Ay. 29    : Apakah dasar jawaban Kristus atas pertanyaan ahli Taurat itu?

Sekalipun arti kata “Taurat” (Ibr. Torah) secara hurufiah adalah hukum, namun para ahli Taurat tidak hanya mempelajari sepuluh hukum yang diberikan Allah kepada bangsa Israel melalui nabi Musa di gunung Sinai (Kel. 20). Kelima kitab pertama dalam Alkitab Perjanjian Lama disebut Pentateukh, lima kitab taurat. Maka hukum Taurat, adalah semua hukum yang tertulis pada lima kitab Musa itu, yang disebut sebagai kitab-kitab Taurat (Ibr. Sefer Hatorah). Di dalam perkembangannya, apa yang dipelajari para ahli Taurat bukan hanya terbatas pada lima kitab Musa itu saja, sebab semuanya itu dijabarkan menjadi 613 hukum-hukum/ perintah-perintah, yang disebut “613 MITSVOT (perintah)”. Dengan latar belakang yang demikian, maka wajarlah kalau ahli Taurat tersebut menanyakan, “Hukum manakah yang paling utama?”.

Merespon pertanyaan ahli Taurat itu, Kristus langsung merujuk pada apa yang biasa disebut shema Israel yang tercatat dalam kitab Ulangan 6:4-5. Di sana ditulis, “Dengarlah hai Israel…” kata “dengarlah” ini yang dalam bahasa Ibrani memakai istilah “Shema”. Dalam shema ini terdapat hukum “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Ula. 6:5). Sedangkan hukum kedua (ay. 31) yang dinyatakan Kristus bertolak dari apa yang ditulis dalam kitab Imamat 19:18, “…kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri…”. Dari jawaban Kristus ini kita dapat memahami bahwa dengan hidup dalam kasih, kita akan membangun kehidupan yang selaras dengan apa yang Allah kehendaki.

Refleksi

Memiliki pengetahuan yang banyak dan baik tentang hukum Taurat tidak membuat kita secara otomatis hidup dalam kasih. Dibutuhkan sebuah komitmen tersendiri agar apa yang kita ketahui itu dapat mewujud dalam perbuatan kita.

Tekad

Doa: Tuhan Yesus, tolong saya agar bukan hanya sebatas berusaha mengetahui hukum Taurat, tetapi juga berjuang untuk melakukannya. Amin.

Tindakan

Dalam seminggu ke depan, saya akan mendoakan dan mencari 2 orang yang berkomitmen hidup dalam kasih, untuk dicalonkan sebagai penatua.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«