suplemenGKI.com

Sabtu, 31 Maret 2012

30/03/2012
Teladan

Teladan

Filipi 2:5-11

 

Dalam Kristus Terdapat Teladan Yang Termulia

Salah satu godaan empuk yang bisa menyebabkan manusia jatuh dalam dosa adalah sikap mementingkan diri sendiri. Hal itulah yang menjadi awal kejatuhan manusia pertama (Kej 3:4-6) Dimana manusia terpikat untuk ingin menjadi seperti Allah. Maka keinginan itu langsung merasuki pikirannya untuk menjadi seperti Allah agar bisa tahu tentang hal yang baik dan yang jahat. Sejak saat itu kecenderungan manusia terus ingin mementingkan dirinya sendiri.

Dalam Efesus 2:5-11 Rasul Paulus mengajarkan kepada setiap pembaca tentang bagaimana mengatasi kecenderungan pementingan diri sendiri, melalui keteladanan Kristus yang termulia.

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:
1) Apa makna yang terkandung di dalam ayat. 5-7, maksud apa yang menjadi penekanan Paulus dalam nasihatnya itu?
2) Pengorbanan macam apa yang diteladankan Yesus dengan merendahan diri sedemikian rupa (v. 8)?
3) Apa buah dari pengorbanan yang telah dilakukan oleh Yesus (v. 9-11)?

 

Renungan:
            Filipi 2:5-11 adalah merupakan sebuah nyanyian pujian atau hymn yang bersifat Kristosentris. Rasul Paulus memasukan syair-syair dengan komposisi nyanyian atau pujian ke dalam suratnya kepada jemaat Filipi dengan maksud untuk menginspirasikan kepada jemaat tentang keteladanan kerendahan hati yang termulia dari Kristus. Secara tidak langsung Paulus ingin menasihati jemaat agar menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan mereka dalam hal kerendahan hati yang dikonkritkan dengan pengorbanan. Bagi Paulus keteladanan kerendahan hati yang sempurna dan mulia hanya dapat diteladani di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Keteladanan kerendahan hati Yesus bukan hanya dinyatakan melalui Dia bersedia menjadi hamba dalam bentuk Ia rela turun ke dunia menjadi manusia dalam bentuk kenosis atau pengosongan diri. Yesus yang adalah Allah sejati tetapi karena kerendahan hati-Nya Dia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. Tetapi kerendahan hati yang mulia dari Yesus mencapai puncaknya adalah Dia rela menderita, disiksa, disalibkan sampai mati di kayu salib sebagai bentuk pengorbanan yang totalitas agar orang lain yaitu manusia yang berdosa ini mengalami keselamatan, mengalami kelepasan dan pengharapan oleh-Nya.

Pengorbanan seperti inilah yang dinilai oleh J. Wesley Brill sebagai sebuah pengorbanan yang bernilai besar dan agung sebagai kasih karunia yang tidak dapat dibayar dengan apapun. Hal itu menunjukan bahwa keselamatan yang kita peroleh melalui pengorban Tuhan Yesus itu adalah bernilai mahal dan tidak dapat dibayar dengan apapun juga perbuatan manusia.

Buah dari pengorbanan yang bernilai mahal itu telah mengatar Yesus sebagai pribadi yang sangat dimuliakan oleh Allah Bapa. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah di bawah kaki Yesus semua yang di langit dan di bumi harus bertekuk lutut menyembah-Nya.

Bagaimana kita menanggapi nilai kerendahan hati Yesus yang dilalui-Nya dengan pengorbanan secara totalitas itu? Adakah kita masih terus mempertahankan sikap mementingkan diri sendiri? Adakah kita masih mencari harga diri di hadapan manusia? Adakah kita masih suka merendahkan orang lain yang kita anggap lebih rendah dari kita? Mari kita meneladani kerendahan hati Tuhan Yesus yang termulia itu. Agar kita dapat menjadi teladan pula bagi orang lain dan nama Tuhan Yesus dipermuliakan oleh banyak orang. Tuhan memberkati.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«