suplemenGKI.com

HUKUM YANG PALING UTAMA

Markus 12:28-30

 

Pengantar

Sebagian besar dari kita tentu tidaklah asing dengan hukum kasih. Namun hal ini bukanlah alasan bagi kita untuk mengabaikan perenungan hari ini. Sebab semakin kita merenungkan hukum kasih, semakin kita menyadari berbagai keterbatasan kita dalam menerapkan hukum kasih itu. Hari ini kita akan bercermin, mengintrospeksi diri kembali melalui perenungan terhadap hukum kasih ini.

Pemahaman

-   Mengapa ahli Taurat itu mengajukan pertanyaan, “Hukum manakah yang paling utama?”
-   Apakah arti jawaban yang diberikan Tuhan Yesus kepada ahli Taurat itu bagi Saudara?

Pertanyaan “Hukum manakah yang paling utama?” merupakan pertanyaan yang wajar mengingat orang-orang Yahudi memiliki ratusan hukum. Total seluruhnya adalah 613 perintah, yang terdiri dari perintah negatif sebanyak 365, sama dengan jumlah hari dalam satu tahun matahari, dan perintah positif berjumlah 248, yang dikatakan merupakan jumlah seluruh tulang dan organ utama dalam tubuh manusia. Jumlah hukum yang sedemikian banyaknya itu mencerminkan besarnya kerinduan orang-orang Yahudi untuk menerapkan perintah-perintah Allah sedetil mungkin. Namun yang menarik justru ketika kita memperhatikan jawaban yang diberikan oleh Tuhan Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Sebuah jawaban yang mengingatkan kita bahwa kita bisa saja melakukan tindakan-tindakan yang sesuai dengan perintah Allah tetapi tanpa hati yang mengasihi Allah.

Di dalam Alkitab kita banyak menjumpai berbagai macam praktik kehidupan keagamaan namun tanpa hati yang mengasihi Allah. Salah satu contohnya adalah teguran yang disampaikan Allah melalui nabi Yesaya, dimana bangsa Israel melakukan puasa, tapi tindakan keagamaan puasa tersebut malah mendukakan hati Allah (Yes. 58). Hal yang sama juga diungkapkan oleh nabi Yeremia, dimana bangsa Israel melakukan praktik keagamaan seperti puasa, memberikan korban bakaran maupun korban sajian, namun semuanya itu tidak berkenan di hadapan Allah (Yer. 14:12). Contoh semacam ini bukan hanya terjadi pada jaman Perjanjian Lama, melainkan juga ada di jaman Perjanjian Baru. Bahkan Tuhan Yesus sendiri mengajarkan agar praktik-praktik keagamaan, seperti berdoa, berpuasa dan memberi sedekah, dapat dilandasi pada hati yang takut akan Allah, hati yang rindu untuk berada dekat dengan Allah senantiasa (Mat. 6).

Refleksi

Melakukan berbagai perintah Allah tanpa dilandasi hati yang mengasihi Allah merupakan suatu tragedi. Melalui nabi Yeremia Allah berfirman bahwa sekalipun bangsa Israel berpuasa, namun Allah tidak akan mendengarkan seruan mereka. Hal ini menandakan bahwa mereka melakukan ritual-ritual keagamaan yang seakan-akan mendekatkan diri kepada Allah, namun sesungguhnya malah membuat mereka jauh dari Allah. Bagaimana dengan kehidupan kita?

Tekad

Doa: Bapa surgawi, tolonglah saya untuk terus mendasarkan setiap tindakan saya pada hati yang mengasihi Engkau sepenuhnya. Amin.

Tindakan

Saya akan menghafalkan Markus 12:30

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«