suplemenGKI.com

Matius 27 : 56 – 66

“MEMAKNAI HIDUP DALAM KEHENINGAN”

Pengantar
Tidak banyak orang yang suka pada keheningan dan tidak banyak orang yang dapat menikmatinya. Dalam keheningan orang dapat merenungkan hidupnya, pengalamannya, dan juga relasinya dengan Tuhan dan sesamanya. Dalam keheningan orang dapat menemukan hal yang mendasar dan dalam yang akhirnya dapat membawa orang pada kesadaran yang baru tetang segala sesuatu.

Pemahaman
Bagaimana sikap para ahli Taurat dan orang Farisi terhadap peristiwa kematian Tuhan Yesus ?  bagaimana sikap kita terhadap setiap peristiwa yang kita alami ?

Yusuf dari Arimatea adalah orang Farisi yang menjadi anggota Sanhedrin. Rupanya ia juga menjadi murid Tuhan Yesus ( bukan murid inti ). Ia sebenarnya juga mengetahui semua peristiwa yang menimpa Yesus namun ia tidak bisa berbuat banyak. Kini setelah semua berlalu, dan mayat Yesus masih diatas kayu salib sedangkan sore hari sudah memasuki hari sabat maka ia meminta ijin kepada Pilatus untuk menguburkan mayat Yesus di tanah kubur miliknya. Mayat Yesus dirawat dengan baik oleh Yusuf, dikafani dengan kain lenan yang putih bersih, kemudian diletakkan didalam sebuah kubur yang masih baru dan ditutup dengan sebuah batu yang besar.

Yang dilakukan oleh Yusuf terhadap mayat Yesus berbeda dengan yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Mereka tetap menyimpan permusuhan [dendam] dan kebencian terhadap Yesus bahkan sampai Yesus mati mereka tetap tidak tenang, mereka masih ingat akan kata-kata Yesus, bahwa Yesus akan bangkit pada hari ketiga. Karena itu mereka lapor kepada Pilatus dan atas ijin Pilatus maka kubur Yesus dijaga dan di materai  sehingga tidak ada yang bisa/boleh membukanya. Sikap semacam ini [ permusuhan dan kebencian ] tidak sepatutnya terjadi dikalangan para ahli Taurat dan orang Farisi. Tetapi hal itu hendak menunjukkan bahwa permusuhan dan kebencian telah merasuki kalangan alim ulama.

 Oleh sebab itu kita jangan terlena karena permusuhan dan kebencian juga bisa merasuk kedalam kehidupan orang beriman dan kehidupan bergereja. Jika demikian maka kita harus mengingat kembali panggilan kita sebagai orang Kristen untuk mempraktekkan kasih.

Refleksi
Ambillah saat hening sejenak, bertanyalah pada diri sendiri, : apakah dalam kehidupan kita masih menyimpan dendam dan kebencian terhadap orang-orang disekitar kita ? terutama orang yang pernah menyakiti kita ?

Tekadku
Jika dihati saudara masih menyimpan dendam dan kebencian, ambillah waktu untuk berdoa. Katakan kepada Tuhan, “Tuhan hari ini saya bertekad membuang semua perasaan dendam dan kebencian terhadap orang ini………….[sebutkan namanya] Tuhan gantilah rasa dendam dan benci itu dengan kasih.

Tindakanku
Mulai hari ini saya akan menghadapi hidup dengan lega, semua dendam dan benci telah saya ganti dengan kasih.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*