suplemenGKI.com

Sabtu, 30 Juli 2016

29/07/2016

Melumpuhkan Ketamakan Dengan Bergantung Pada Tuhan

Lukas 12:13-15

 

Pengantar
Siapa yang tak senang jika punya banyak harta benda, hidup nyaman tanpa kekurangan suatu apapun? Pasti semua orang sangat mendambakannya. Dengan harta benda yang melimpah, orang akan dapat melakukan banyak hal dalam hidupnya. Kendati demikian, jika manusia tidak mengendalikan diri terhadap hartanya, akan berujung pada sikap ketamakan. Apabila hal ini terus menerus dibiarkan, maka manusia akan bermegah atas dirinya sehingga lupa kepada siapa ia harus bergantung. Apakah hidup kita jauh dari ketamakan? Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 13          : Masalah apakah yang sedang dihadapi oleh orang yang sedang bercakap-cakap dengan Yesus?
  • Ayat 14-15    : Bagaimanakah jawaban Yesus atas masalah yang dihadapi orang itu?

Lukas 12:13-15 merupakan peristiwa yang mengawali perumpamaan Yesus tentang orang kaya yang bodoh. Ketika Yesus sedang menyampaikan pengajaran-Nya, ada salah seorang dari antara orang banyak itu berkata kepada Yesus tentang masalahnya. Rupanya orang itu sedang mempersoalkan warisan yang belum dibagikan oleh saudaranya ( v. 13 ). Orang ini bukanlah meminta keadilan, tetapi kekayaan. Kekayaan telah membutakan mata hatinya untuk melihat sebuah kebenaran. Bahkan orang itu tidak meminta Yesus untuk meneliti masalahnya lebih lanjut. Yesus tidak serta merta melakukan apa yang diminta oleh orang itu namun Ia berusaha mengubah pikiran orang itu. Yesus bertanya “Siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”. Pertanyaan ini merupakan ekspresi penolakan atas keinginan orang itu. Ia justru memberikan nasehat agar berjaga-jaga dan waspada terhadap segala ketamakan.

Ketamakan membuat manusia bergantung dari hartanya, bukan bergantung pada Tuhan. Orang yang tamak adalah orang yang tidak memiliki kasih terhadap Tuhan dan sesama karena terus memikirkan dirinya sendiri. Pusat hidupnya bukanlah kepada Tuhan, tetapi untuk harta. Oleh karenanya sekalipun ia punya banyak harta tapi masih terus kuatir dan takut serta selalu merasa kekurangan berkat. Orang yang tamak cenderung tidak bahagia karena sekalipun sadar bahwa telah memiliki banyak harta tapi dia selalu merasa  belum cukup. Hidupnya terobsesi oleh keinginan menumpuk harta lebih banyak lagi. Orang seperti ini bukan saja tidak mampu bersyukur tapi justru cenderung tidak peduli akan kesusahan  kesusahan orang lain. Waspadalah!

Refleksi
Buatlah daftar harta kekayaan yang telah saudara miliki? Apakah salah satu atau bahkan semuanya telah membuat Saudara berbangga diri dan bergantung kepada harta itu? Apakah harta itu telah membuat Anda selalu kuatir dan takut sehingga mengalahkan iman yang bergantung pada Tuhan? Apakah harta itu telah membuat Saudara menjadi tamak sehingga tak peduli dengan kehidupan orang lain yang berkekurangan?

Tekad
Ya Tuhan, mampukanlah aku untuk tidak menggantungkan hidupku pada harta kekayaan tapi hanya pada Tuhan saja. Mampukanlah aku untuk bersikap bijak terhadap harta yang Engkau berikan karena aku tahu bahwa harta kekayaanku adalah milik – Mu yang sedang Kau titipkan  padaku.

Tindakan
Mulai saat ini aku akan melumpuhkan ketamakanku terhadap harta dengan berbagi kepada orang lain yang membutuhkan. Aku akan memakai harta anugerah Tuhan untuk diabdikan bagi karya pelayanan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«