suplemenGKI.com

Sabtu, 30 Juli 2011

29/07/2011

Ketaatan adalah Pilihan

Matius 14:1-12

Berbicara tentang hubungannya dengan Kristus, Yohanes Pembaptis pernah memberikan pernyataan bahwa Ia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil (Yoh. 3:30). Nampaknya hal itulah yang terjadi dalam Matius 14 ini. Sebab, dalam pasal 14 ini pamor Yohanes Pembaptis mulai memudar, sedangkan Kristus kian bersinar. Hari ini kita akan merenungkan bagian pertama, yaitu memudarnya pamor Yohanes Pembaptis, serta mencoba untuk merenungkan beberapa hal.

-  Menurut Saudara, merujuk pada situasi yang seperti apakah frasa “Pada masa itu” dalam ayat 1? Dapatkah Saudara memberikan gambaran atas situasi tersebut?

-  Mengapa ada orang yang berani memilih tetap menyuarakan kebenaran meski tidak populer? Hal-hal apa saja yang dapat menghambat Saudara untuk dekat dengan tipe orang semacam itu?

Renungan

Berangkat dari pemahaman bahwa Yohanes pasal 14 ini berbicara tentang masa transisi Yohanes Pembaptis – Yesus Kristus, maka catatan penulis Injil tentang sampainya berita tentang kiprah pelayanan Yesus ke telinga Herodes dapat dipahami sebagai terbukanya tirai teater untuk memasuki babak baru. Hal ini dipertegas dengan pernyataan Herodes, “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati…” Tirai telah diturunkan untuk mengakhiri babak Yohanes Pembaptis, tapi kemudian tirai terbuka lagi pertanda kiprah pelayanan Yesus mulai digelar.

Dalam mengenang kiprah pelayanan Yohanes Pembaptis, teringatlah bagaimana Yohanes Pembaptis dengan berani menyuarakan kebenaran. Nampaknya pamor pelayanan Yohanes Pembaptis cukup cemerlang sehingga Herodes sendiri pun juga turut mendengarkan khotbah-khotbah Yohanes Pembaptis. Bahkan kadang hati Herodes menjadi tidak menentu, terombang ambing antara marah karena tertegur dosanya dengan segan karena menyadari kebenaran dari apa yang disampaikan Yohanes (Mar. 6:20). Keberadaan Herodes dalam jajaran para pendengar khotbah Yohanes Pembaptis pastinya juga berdampak menaikkan popularitas Yohanes Pembaptis. Namun Yohanes Pembaptis menolak popularitas itu meski akhirnya dia masuk penjara. Sebab yang dipikirkannya adalah bagaimana Kristus dipermuliakan. Yohanes Pembaptis sadar bahwa tugas dan panggilannya adalah menjadi suara yang berseru-seru di padang gurun untuk meluruskan jalanan yang berliku, menimbun jalan yang berlubang, agar siap untuk dilalui Mesias (Mat. 3:2-3). Adalah tanggungjawab Yohanes Pembaptis untuk menyuarakan kebenaran agar hati umat Allah menjadi siap untuk menerima lawatan Allah. Tidak terkecuali dengan raja Herodes (Luk. 1:16-17).

Memang pasti ada harga yang harus dibayar untuk suatu ketaatan. Tapi ini adalah pilihan. Sebab ketika memilih untuk tidak taatpun juga ada harga yang harus dibayar. Yohanes Pembaptis memilih untuk membayar harga hidup taat kepada Allah. Bagaimana dengan kita? Apakah kita mau dengan berani menyuarakan kebenaran sebagaimana yang telah dilakukan Yohanes Pembaptis?

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«