suplemenGKI.com

Sikap manusia sangat mudah berubah-rubah, ibarat air mengikuti bentuk wadahnya. Di satu sisi baik karena mudah menyesuaikan diri, tetapi di satu sisi sangat tidak tetap pendiriannya. D. James Kennedy seorang teolog Injili dari Colorado pernah berkata “Manusia selalu berubah dan sangat bervariasi. Terkadang perubahan itu membahayakan walau terkadang menguntungkan. Ketidaktetapan itu mencerminkan ketidak kokohan pemahaman akan Tuhan. Maka manusia sebaiknya mulai belajar memahami Tuhan seperti Tuhan memahami manusia sehingga manusia tidak ditolak-Nya”  Ketika saya mendapatkan kalimat itu saya berpikir keras dan menemukan suatu pemikiran, jika Tuhan seperti manusia yang mudah berubah-rubah, maka suatu ketika kita yang telah percaya bisa ditolak Allah karena melihat manusia walaupun sudah percaya tetapi masih jatuh bangun dalam dosa. Beryukur Allah tidak seperti manusia, sehingga Dia berkata “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal” (Yer 31:3b)

Pertanyaan-Pertanyaan Penuntun:

  1. Apa yang saudara pahami tentang pernyataan orang-orang Nazaret “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” (ay 22)
  2. Bukankah diawal khotbah Yesus, orang-orang Nazaret terkesan sangat kooperatif (ay.22) Tetapi mengapa tiba-tiba di ayat 28-29 mereka menjadi marah dan menghalau Yesus?

Renungan:

Mungkin kalimat yang lebih cocok untuk menjelaskan pernyataan orang-orang Nazaret terhadap Yesus adalah “Mana mungkin seorang anak Yusuf seperti Dia, yang orang tuanya mereka kenal sebagai tukang kayu itu dapat berkhotbah begitu indah?” Seakan tidak percaya dan tidak menerima akan keberadaan dan pengajaran Yesus yang saat itu sedang berada di tengah-tengah mereka. Di sini mereka menunjukan sifat statis dalam menilai Yesus. Mereka mengira Yesus adalah manusia biasa yang selama ini mereka kenal. Persoalan utama mereka adalah salah mengerti tentang diri Yesus. Ketika mereka salah mengerti dan tidak mengenal Yesus yang sebenarnya maka muncul penolakan terhadap Yesus. Penolakan itu menjadi benteng bagi mereka untuk tidak bersedia disadarkan bahwa mereka keliru/salah dalam menilai Yesus.

Keengganan untuk disadarkan meningkat menjadi perlakuan anarkhis, kasar dan memberontak. Sifat-sifat seperti itu menjadi modal mereka untuk memanfaatkan setiap ketidak sepahaman mereka terhadap penyataan Yesus. Sekalipun setiap pernyataan Yesus itu adalah fakta yang ada dalam diri mereka.

Menurut William Barcley, orang-orang Nazaret itu menjadi marah dan berubah seketika karena mendengar khotbah Yesus yang terkesan lebih menyanjung orang-orang asing ketimbang orang Yahudi yang adalah bangsa-Nya sendiri. Yesus memang menjelaskan bagaimana Elia dilayani oleh janda Sarfat – Sidon (kafir) ketika terjadi kelaparan di Israel dan Elisa yang justru mentahirkan Naaman orang Siria (kafir) dari pada mentahirkan begitu banyak orang sakit kusta di Israel.  Bagi orang Nazaret itu alasan tepat untuk menolak bahkan mau menghabiskan Yesus (ay. 28-29)

Apa yang penting dalam renungan ini, Yesus hendak mengajarkan kita bahwa: Pemahaman yang keliru tentang Yesus berdampak pada mengeraskan hati terhadap pengajaran-Nya. Hati yang keras sulit menerima perubahan yang ingin Tuhan Yesus lakukan dalam diri seseorang. Jangankan menerima tetapi justru menolak. Jika kita ingin mengalami keajaiban Tuhan Yesus, kenalilah Dia bukan dengan pemahaman manusiawi tetapi dengan pemahaman iman kepercayaan kepada-Nya.

Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Kristus

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*