suplemenGKI.com

Sabtu, 3 April 2021

02/04/2021

Menghadapi Pergumulan Hidup

Mazmur 31

Pengantar

Hari ini kita merayakan Sabtu Sunyi. Ini adalah hari dimana para murid diliputi duka yang mendalam. Sejak dua hari yang lalu, mereka kurang istirahat. Hari Kamis kemarin fisik para murid sangat penat karena jadwal kegiatan yang sangat padat. Dan hari Jumat kemarin, psikis para murid campur aduk karena sepanjang hari mereka tercekam dengan pengadilan dan penyaliban serta penguburan Kristus. Dengan turut merasakan kepedihan hati para murid pada waktu itu, saat ini kita akan merenungkan Mazmur 31.

Pemahaman

-   Apakah Saudara pernah mengalami kehilangan muka? Bagaimana perasaan Saudara pada waktu itu?

-   Mengapa Pemazmur berkata seperti seseorang yang akan mendapat malu?

Mazmur 31 ini dapat dikategorikan sebagai mazmur ratapan. Sebab isi dari mazmur ini adalah ratapan Pemazmur yang penuh dengan pergumulan. Ada orang yang memusuhinya dengan memasang perangkap untuk menjebaknya (ay. 5, 9). Selain itu Pemazmur juga mengalami sakit baik lahiriah maupun batiniah, Pemazmur merasa sesak, matanya pedih disebabkan menangis sedih karena sakit hati yang dialaminya. Hal tersebut membuat jiwa dan tubuh Pemazmur merana. Kekuatannya merosot karena sengsara yang dideritanya, dan tulang-tulangnya menjadi lemah (ay. 10-11). Bukan hanya itu, Pemazmur juga ditinggalkan oleh sahabat-sahabatnya (ay. 12), dan tidak diingat lagi (ay. 13), bahkan menjadi sasaran permufakatan jahat mereka (ay. 14).

Bagi mereka yang memusuhi Pemazmur, seluruh pergumulan tersebut seakan menjadi indikator bahwa Pemazmur telah ditinggalkan oleh Tuhan. Meskipun demikian, Pemazmur tidak kehilangan iman kepercayaannya. Pemazmur berlindung kepada Allah (ay. 2), memohon agar Allah segera menjawabnya sehingga Pemazmur tidak dipermalukan, yaitu dianggap telah ditinggalkan Allah (ay. 23). Pemazmur tetap percaya kepada Allah (ay. 15), dia tetap yakin akan kebaikan Tuhan yang berlimpah (ay. 20), karena itu Pemazmur memohon agar Tuhan tidak berpaling darinya dan wajah-Nya tetap bercahaya atasnya (ay. 17). Seluruh keyakinan Pemazmur ini merupakan cerminan dari sikap hidup Pemazmur yang menyerahkan nyawanya ke dalam tangan Tuhan (ay. 6a). Penyerahan diri Pemazmur ini juga diucapkan Kristus sebagai ucapan ketujuh pada waktu Ia disalibkan, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu  Kuserahkan nyawa-Ku.” (Luk. 23:46).

Refleksi

Pergumulan hidup kadang memang bisa datang secara tiba-tiba, bahkan menyergap kita silih berganti seakan tiada habisnya. Hal itu membuat kita bagaikan digulung ombak demi ombak sehingga sulit untuk bernafas. Menghadapi keadaan yang demikian, Pemazmur memberi teladan tetap berseru kepada Tuhan, berharap akan pertolongan-Nya, serta menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan.

Tekad

Doa: Bapa surgawi, tolong saya untuk tetap berserah kepada-Mu, apapun yang terjadi. Amin.

Tindakan

Saya akan meluangkan waktu minimal 15 menit untuk membawa dalam doa segala pergumulan hidup saya dan keluarga.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*