suplemenGKI.com

Markus 9:38-41

Berbeda Tapi Tetap Satu

 

Seringkali dalam hidup ini kita dapat menjumpai banyak perbedaan di lingkungan sekitar kita dan tentu saja tidak selalu perbedaan merupakan hal yang salah atau jelek.  Misalnya, sebagai contoh sederhana adalah pada saat kita sebagai orang tua memberikan hadiah kepada kedua anak kita maka ekspresi yang timbul dari kedua anak tersebut mungkin bisa berbeda dalam mengungkapkan terima kasihnya kepada kita.  Bisa jadi anak yang pertama melompat-lompat kegirangan dan memeluk kita sambil berkata terima kasih namun anak kedua mungkin sikapnya lebih “cool” dengan hanya berbisik di telinga kita sambil berkata terima kasih.  Tentu saja  sikap kedua anak tersebut tidak dapat dinilai benar atau salah karena apapun bentuk ekspresinya tetap tidak merubah esensinya sebagai ungkapan terima kasih serta tidak berpengaruh terhadap status mereka sebagai anak kita.  Hal yang hampir sama dapat kita temukan dalam bacaan hari ini yang akan kita renungkan bersama.

Pertanyaan Penuntun:

    1. Mengapa Yohanes keberatan terhadap seseorang yang mengusir setan demi nama Tuhan Yesus ? (ayat 38)
    2. Mengapa Tuhan Yesus melarang Yohanes mencegah orang tersebut ? (ayat 39)
    3. Pesan apakah yang ingin Tuhan Yesus ajarkan melalui peristiwa tersebut ?

RENUNGAN

Bacaan dalam perikop ini tentu saja masih berkaitan dengan perikop-perikop sebelumya yang juga perlu kita pahami agar mempermudah perenungan kita. Pertama, para murid termasuk Yohanes merasa keberatan karena mereka merasa bahwa otoritas pelayanan hanya dipercayakan kepada para murid sehingga begitu ada orang lain yang melakukan pelayanan yang sama maka mereka menilai orang tersebut sesat dan wajib untuk dihentikan.  Kedua, secara jelas dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa dalam pelayanan yang terutama adalah bukan terletak pada manusianya namun didasarkan pada keyakinan iman semata sehingga jika seseorang beriman sungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus maka secara otomatis orang tersebut juga menerima kuasa menjadi pelayan Tuhan.

Melalui peristiwa ini ada beberapa hal yang dapat  dipelajari yaitu:

  1. Jika dalam suatu pelayanan masih mempertengkarkan siapa yang paling “hebat” sebagaimana dilakukan para murid maka hal tersebut menunjukkan sikap ekslusivitas serta superioritas pribadi atau kelompok dan seringkali pelayanan yang dilakukan tidak berbuah “manis” dan tidak menjadi berkat bagi yang dilayani.
  2. Jika seseorang yang melayani dalam nama nama Tuhan Yesus tentu saja orang tersebut sudah memahami,mengerti dan menyakini kebenaran-kebenaran yang ada dalam Firman Tuhan sehingga orang tersebut tidak perlu dimusuhi atau dicegah bahkan dihalang-halangi karena kita melayani Tuhan yang sama.

Marilah kita merenungkan kembali sejauh mana pemahaman kita mengenai konsep pelayanan terhadap diri kita sendiri maupun terhadap orang lain.

  • Apakah kita selama ini terjebak dalam pemikiran bahwa diri kita atau kelompok kita yang paling “hebat” dan “berjasa” dalam pelayanan ?
  • Sejauh mana kita mensikapi dan mengelola perbedaan yang ada dengan saudara-saudara kita dalam pelayanan yang bukan anggota kelompok kita?
  • Apakah yang menjadi fokus dan motivasi  kita dalam pelayanan selama ini ?

 

Dia  harus makin bertambah dan ku harus makin berkurang

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*