suplemenGKI.com

Ketika Perkataan Tak Sejalan Dengan Perbuatan

Matius 23:1-12

Nabi Musa

Nabi Musa

Satunya perkataan dan perbuatan tidaklah selalu ada dalam diri setiap manusia. Ketika kita berjumpa dengan orang seperti itu, maka perasaan jengkel juga akan turut muncul. Bagaimana kalau hal tersebut kita temukan dalam diri pemimpin kita? apa yang harus kita lakukan?

-   Apakah yang dimaksud dengan “telah menduduki kursi Musa” di sini? Bagaimana para ahli Taurat dan orang Farisi itu dapat menduduki kursi Musa?

-   Bagaimana Kristus menyikapi orang-orang yang hanya mengajarkan tapi tidak melakukan?

Renungan:

Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Yang dimaksud dengan kursi Musa di sini adalah tempat duduk untuk mengajar dalam rumah-rumah Ibadat. Hal ini berarti bahwa mereka berperan sebagai guru-guru masyarakat dan penafsir hukum Musa, yang pada waktu itu menjadi hukum politis yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat bangsa Yahudi. Merekalah yang bertugas sebagai hakim di pengadilan untuk memutuskan perkara-perkara criminal, hukuman-hukuman khusus, serta mengeluarkan surat perintah keputusan pengadilan atas seseorang. Wewenang mereka hanya sebatas menjadi kepala pengadilan seperti yang dilakukan Musa (Kel. 18:26), tetapi tidak sebagai pengantara antara Allah dan manusia. Dengan demikian sebenarnya Tuhan Yesus mengakui jabatan para ahli Taurat dan orang Farisi itu sebagai pengajar. Jabatan itu sendiri adalah sah dan terhormat. Dan sebagai wujud pengakuan tersebut Tuhan Yesus mengajarkan agar para murid menuruti dan melakukan segala sesuatu yang mereka ajarkan (Mat. 23:3).

Tuhan Yesus tidak mengecam jabatan yang diduduki para ahli Taurat dan orang Farisi, tapi Dia mengecam orang yang menduduki jabatan tersebut. Sebab mereka hanya mengajarkan tapi tidak melakukan. Karena itu Tuhan Yesus memperingatkan para murid-Nya untuk mentaati pengajaran mereka, tetapi jangan menuruti perbuatan mereka. Tuhan Yesus mengibaratkan mereka sebagai orang yang mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya (ay. 4). Pada dasarnya kecaman Tuhan Yesus itu lebih tertuju kepada batiniah yang ada di balik perilaku lahiriah mereka, seperti kemunafikan, ketidakjujuran, serta memiliki standar hidup ganda. Mereka melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan agar dilihat orang. Misalnya, mereka memakai tali sembahyang yang lebar. Yang dimaksud dengan tali sembahyang di sini adalah gulungan kertas atau kulit yang memuat kutipan empat paragraph hukum Taurat yang ditulis dengan sangat rapid an indah. Tulisan ini dijahit di atas kulit dan dipakai pada dahi dan lengan kiri mereka. Ini adalah ada para leluhur mereka mengikuti Keluaran 13:9 dan Amsal 7:3. Nah, orang-orang Farisi itu membuat tali sembahyang ini menjadi lebih lebar, agar dipandang lebih suci, lebih taat dan lebih giat dalam menjalan hukum.

Sampai sekarang nasihat Tuhan Yesus ini masih berlaku, yaitu agar kita semua tetap mengikuti apa yang diajarkan oleh orang-orang yang berwenang sekalipun mungkin perilaku mereka tidak sesuai dengan pengajarn mereka sendiri. Nasihat ini penting bagi kita yang memiliki kecenderungan untuk memandang rendah orang yang tidak melakukan apa yang diajarkannya. Ketika perkataan tak sejalan dengan perbuatan, tetaplah fokus pada perkataan dan ajaran.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«