suplemenGKI.com

1 Korintus 1:4 – 9

 

Menanti dengan Bersyukur

 

Pengantar
Tentu kita semua pernah bersyukur, entah itu dalam bentuk mengadakan ibadah syukur, memberikan kesaksian, menaikkan doa syukur secara pribadi, atau hanya dalam bentuk ucapan singkat, “Terima kasih Tuhan”. Tapi, apakah yang kita syukuri? Pertanyaan inilah yang akan menjadi bahan perenungan kita dalam memasuki minggu-minggu adven ini.

 

Pemahaman
- ay. 4 – 7: Apakah yang menjadi landasan rasul Paulus di dalam mengucap syukur kepada Allah?

- ay. 8 – 9: Selain mengucap syukur, apa lagi yang dilakukan Paulus tatkala melihat keadaan Jemaat Korintus?

 

Mengingat adanya sekelompok orang yang tidak bersahabat dengan rasul Paulus (perhatikan renungan kemarin), adalah suatu hal yang luar biasa bila kini ia mengucap syukur kepada Allah. Rasul Paulus bukan mengucap syukur atas apa yang diperolehnya, tetapi atas apa yang didapatkan oleh Jemaat Korintus, yakni atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Meski kasih karunia ini membuat Jemaat Korintus menjadi kaya, tapi jelas kekayaan ini bukanlah kekayaan materiil. Jemaat Korintus terkenal kaya karunia. Inilah yang ditegaskan Paulus ketika ia berkata, “Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus” (ay. 7). Sungguh suatu teladan yang indah dari rasul Paulus. Ketika ia memandang sesamanya, ia tidak memperhatikan hal-hal jasmaniah dari orang tersebut, melainkan pertumbuhan rohani, yakni bagaimana kasih karunia Allah dianugerahkan kepada orang tersebut.

Bukan hanya menaikkan doa ucapan syukur, rasul Paulus maju selangkah lagi, ia juga berdoa agar Tuhan terus meneguhkan mereka sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan (ay. 8). Meneguhkan dan tak bercacat merupakan dua hal yang saling melengkapi. Pengertian kata “meneguhkan” di sini adalah menjaga tetap kokoh (BIS: menjamin; RSV: sustain, menopang), sedangkan kata “tak bercacat” dapat dipahami sebagai bebas dari noda (BIS: tanpa cela), seperti yang diterjemahkan FAYH, “bebas dari segala dosa dan kesalahan”. Jadi rasul Paulus sungguh-sungguh bersyukur serta memohon agar kasih karunia itu makin dihidupi secara sempurna.

 

Refleksi
Betapa sering kita mempedulikan orang lain hanya keadaan jasmaniahnya saja, tanpa mempedulikan keadaan rohaninya, apakah hidupnya semakin berkenan di hadapan Allah atau semakin jauh dari-Nya.

 

Tekad
Doa: Tuhan, tolonglah saya untuk belajar peduli dengan pertumbuhan rohani sesama. Amin.

 

Tindakan
Saya akan menghubungi seseorang untuk menanyakan keadaan rohaninya, serta berdoa baginya.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*