suplemenGKI.com

Sabtu, 29 Maret 2014

28/03/2014

Yohanes 9:1-7

 

Menyadari Karya Tuhan: Mengusir Kegelapan Pikiran

 

Pengantar
Pernahkah Saudara menghadapi persoalan, lalu berdoa sekian lama namun Tuhan tidak kunjung menjawab doa Saudara? Atau pernahkah Saudara dijadikan kambing hitam atas suatu persoalan? Menghadapi situasi yang demikian tentu membutuhkan kekuatan tersendiri. Hal itulah yang dapat kita dapatkan melalui perenungan hari ini.

Pemahaman
-  Penderitaan seperti apakah yang Saudara alami terakhir kali? Masih ingatkah bagaimana perasaan Saudara ketika mengalami penderitaan tersebut?

- Mengapa Tuhan mengijinkan orang dalam nas bacaan kita hari ini buta sejak lahir?

Mengalami kebutaan tentulah tidak mengenakkan, apalagi kalau kebutaan tersebut dialami sejak lahir. Meski Alkitab tidak mencatatnya, namun saya yakin kedua orang tua si buta itu telah berdoa memohon kesembuhan kepada Allah. Justru ketika mereka berdoa dan Tuhan tidak mengabulkan apa yang mereka harapkan ini kemudian menambah beban makin terasa berat. Secara umum dalam situasi seperti ini orang dapat merasa ditinggalkan atau diabaikan oleh Tuhan. Apalagi bila masyarakat sekitar melakukan penghakiman dengan menyatakan bahwa ada dosa – entah dari pihak anak, orangtua atau bahkan dari pihak kakek dan buyutnya.

Ketika para murid melihat orang yang buta sejak lahir itu, mereka mengajukan pertanyaan tertutup – suatu pertanyaan yang pilihan jawabannya sudah terkandung di dalam pertanyaan tersebut – kepada Tuhan Yesus, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Mengingat orang itu buta sejak lahir, dan usianya sudah sekitar 40 tahun, tidak menutup kemungkinan pertanyaan yang diajukan para murid itu merupakan kristalisasi dari polemik yang timbul dalam masyarakat pada waktu itu tentang siapa yang salah sehingga orang tersebut buta sejak lahir. Akan tetapi Tuhan Yesus tidak terjebak pada jawaban yang sudah disodorkan itu. Sebaliknya, Tuhan Yesus justru memberikan jawaban yang membukakan wawasan para murid bahwa jawaban atas pertanyaan tersebut tidaklah terbatas hanya pada kedua kemungkinan tersebut, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia”.

Refleksi
Di dalam menghadapi pergumulan dan penderitaan, seringkali kita terjebak untuk mencari kambing hitam. Siapa yang salah? Tidak jarang pertanyaan semacam ini bermuara pada sikap penghakiman yang menghancurkan, karena bila ditemukan siapa yang salah kemudian ramai-ramai menuding dan menghakimi orang tersebut. Sedangkan bila tidak jelas siapa yang bersalah, situasi menjadi penuh kecurigaan. Namun Tuhan Yesus mengajar para murid-Nya untuk melihat karya seperti apakah yang Allah ingin lakukan dalam suatu keadaan.

Tekad
Doa: Tuhan, tolonglah saya untuk belajar mencari kehendak-Mu daripada mencari siapa yang patut dipersalahkan. Amin.

Tindakan
Mengawali hari ini dengan belajar mencari kehendak Tuhan dengan cara menyanyikan lagu NKB 14, “Jadilah Tuhan, Kehendak-Mu”

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«