suplemenGKI.com

Sabtu, 29 Juli 2017

28/07/2017

BUKAN SESUMBAR

Roma 8:31-39

 

PENGANTAR
Pepatah “tong kosong nyaring bunyinya” ditujukan kepada seseorang yang hanya berani bicara tetapi tidak berani melakukan;  alias hanya sesumbar.  Besar omongnya, tapi kecil nyalinya. Di depan orang lain, lagaknya sombong dan mampu tetapi ketika diminta membuktikan, yang keluar justru banyak alasan.  Pertanyaannya, apakah pola hidup Illahi yang kita katakan termasuk hanya sesumbar atau keyakinan iman?  Mari kita baca dan pelajari. 

PEMAHAMAN

  • Ayat 31-32      :  Hal terbesar apa yang sudah Allah karuniakan kepada orang percaya?
  • Ayat 33-36      :  Apa peran Kristus dalam pergumulan orang percaya?
  • Ayat 37-39      :  Apa yang menjadi jaminan Allah dalam pergumulan orang percaya?
  • Bagaimana keyakinan iman kita saat melewati pergumulan yang berat?

Sesumbar sangat berbeda dengan keyakinan iman.  Sesumbar adalah perkataan yang tidak berdasar atau omong kosong. Sebaliknya, keyakinan iman dibangun di atas kebenaran dan pengalaman tentang anugerah & kasih Allah, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (ayat 32).  Karya keselamatan Allah  melalui anak-Nya menjadi dasar nyata keyakinan iman Kristen. Maka pertanyaan retoris di ayat 31-35 bukanlah ungkapan kesombongan, melainkan sikap iman yang bertujuan memberi keyakinan atau pertanggungjawaban supaya orang-orang yang belum percaya di Roma bersedia meyakini anugerah Allah yang menyelamatkan manusia.  Paulus bermaksud menyakinkan kebenaran tersebut supaya di atas segala pergumulan yang terjadi, orang-orang yang baru percaya tidak mundur imannya.  Sebab tidak ada penderitaan yang sebanding dengan karya keselamatan Yesus. Dengan demikian, sikap iman yang bertahan di atas segala penderitaan (ayat 36), menjadi kesaksian hidup bagi mereka yang belum percaya.

Kebenaran yang sama juga berlaku bagi semua orang percaya di masa kini.  Pola hidup Illahi tidak menjanjikan kehidupan selalu lebih mudah.  Sebaliknya pola hidup Illahi seperti yang Paulus tuliskan, “oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari” (ayat 36).  Kita harus memiliki keyakinan bahwa tidak ada satu keadaan apapun, kini dan nanti yang “dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (ayat 39).  Yakinilah terus bahwa kebenaran ini bukanlah sesumbar atau asal bicara;  melainkan merupakan sikap iman yang bangga dan yakin penuh karena “kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (ayat 37).

 

REFLEKSI                                                                           

Mari merenungkan: keyakinan iman seharusnya dibangun dari pengalaman anugerah keselamatan dan kasih Kristus.  Bukan hanya sesumbar yang kita suarakan!

TEKADKU
Tuhan tolonglah aku agar memiliki keyakinan iman yang berdasar atas pengalaman bersama-Mu.

TINDAKANKU
Aku mau membangun keyakinan imanku dengan cara memberi diri dan hati memiliki pengalaman bersama-Nya: membaca firman-Nya, tekun berdoa, merefleksi diri, menemukan makna dalam setiap peristiwa dalam hidup.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*