suplemenGKI.com

1Timotius 6:11-21.

 

“Jadilah Manusia Allah”

 

Pengantar:
Mungkin anda sering mendengar istilah atau sebutan tentang manusia, seperti: manusia super, manusia setengah dewa, manusia robot, manusia serigala dan lain sebagainya. Kata yang ditambahkan setelah kata “manusia” itu adalah untuk memberikan keterangan atas sifat, karakter, kelebihan dan kekurangan dari orang tersebut. Menarik sekali cara Paulus menutup suratnya kepada anak rohaninya Timotius pada perikop terakhir dari suratnya 1Timotius 6:11-21 ini, Paulus menyebut Timotius sebagai manusia Allah. Sebutan ini bukan menunjukkan bahwa Timotius manusia setengah dewa yang memiliki kekuatan adidaya, melainkan untuk menunjukkan bahwa ia adalah abdi Allah atau milik Allah yang harus memahami siapa dirinya dan apa yang harus dilakukannya sebagai manusia milik Allah.

Pemahaman:

  1. Apakah yang diharapkan Paulus dengan menyebutkan Timotius manusia Allah? (v.11-16)
  2. Apakah tujuan Paulus memposisikan Timotius sebagai manusia Allah? (v. 17-21)

Sebagai manusia Allah atau hamba Allah, Timotius diingatkan oleh Paulus akan beberapa hal penting, yakni: Pertama, agar Timotius mengejar karakter-karakter Ilahi dan menjauhi hal-hal yang bersifat dosa (v.11-13). Kedua, agar Timotius menaati perintah Allah senantiasa dengan serius. Kata “tidak bercacat dan tidak bercela” menegaskan bahwa hidup sebagai manusia Allah, selain menjaga kekudusan hidup dengan sungguh-sungguh, juga harus dapat menjadi teladan bagi sesama (v.14-16). Ketiga, agar Timotius menjaga hidup sesuai dengan kebenaran. Pengertian kebenaran yang ditekankan oleh Paulus adalah karakteristik hidup sebagai manusia Allah yang melekat padanya, itulah yang membedakannya dengan manusia yang bukan manusia Allah atau belum percaya (v.20-21). Selain itu, ada tugas yang harus dilakukan oleh Timotius. Paulus meminta Timotius untuk memperingatkan orang-orang kaya agar tidak melulu mengejar kekayaan duniawi, melainkan mengejar kekayaan rohani dengan kerendahan hati dan perbuatan baik (v.17-19). Peringatan ini terkait dengan persoalan yang telah diungkapkan Paulus pada bagian sebelumnya. Karena cinta uang, ada orang-orang telah menyimpang dari iman kepada Tuhan (v. 6:10) Ketika kita percaya Kristus, kita adalah manusia Allah bukan manusia duniawi lagi, maka sudah sepantasnya kita lebih mengejar hal-hal yang rohani lebih utama, sedangkan hal-hal duniawi (perbuatan) kita adalah wujud  ibadah kita yang Nampak secara umum.


Refleksi:
Renungkan sejenak. Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan, apakah kita menghayati bahwa kita adalah manusia milik Allah? Apakah kita juga sudah mewujudkan karakteristik manusia Allah itu dalam hidup sehari-hari kita?

Tekadku:
Tuhan Yesus, saya bersyukur karena saya telah menjadi manusia Allah. Latihlah saya untuk mewujudkan karakteristik sesuai dengan panggilan saya sebagai manusia Allah.

Tindakkanku:
Saya mau terus berjuang dengan pertolongan Tuhan Yesus untuk menghidupkan manusia Allah dalam diri saya melalui setiap aspek kehidupan yang saya jalani.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*