suplemenGKI.com

SABTU, 28 JUNI 2014

27/06/2014

Roma 6:16-23

HIDUP SEBAGAI HAMBA ALLAH

 

Pengantar
Ketika kita percaya bahwa Yesus adalah sang Juruselamat yang sudah menebus dosa-dosa kita, maka kita telah memperoleh penyucian atas dosa dan pengampunan dari-Nya.  Sehingga  kita tidak lagi dibawah hukuman dosa.  Apakah berarti kita bebas berbuat sesuka hati, karena kita berpikir pada akhirnya kita diampuni?  Anggapan yang keliru inilah yang ingin rasul Paulus luruskan pada bacaan firman Tuhan hari ini.

Pemahaman
Ayat 16 -23: Bagaimana rasul Paulus menggambarkan hidup orang percaya, sebelum dan sesudah beroleh keselamatan dalam Yesus?

Apa yang Paulus ingatkan kepada kita megenai dosa dan kasih karunia?

Menjadi hamba pada zaman rasul  Paulus, sama artinya dengan menjadi budak.  Hal itu berarti, seorang budak atau hamba harus memberikan seluruh waktu dan hidupnya kepada tuannya.  Tidak ada lagi waktu untuk dirinya maupun hal-hal lain selain tuannya.  Jadi, seorang hamba tidak mungkin mempunyai dua tuan.  Ayat 16-23 memberi gambaran yang jelas bagi kita, bagaimana hidup orang percaya sebelum dan sesudah mengenal Kristus.  Bahwa kita sudah tidak lagi menjadi hamba dosa tetapi sudah ditebus-Nya menjadi hamba Allah.  Jadi, orang percaya tidak dapat mempunyai tuan selain Allah.

Orang percaya harus menyerahkan seluruh hidupnya untuk Allah, bukan setengah-setengah.  Oleh sebab itu tidak mungkin kita sesuka hati berbuat dosa, meskipun kita sudah beroleh pengampunan.  Pada saat kita memutuskan mengikut Kristus, kita telah dimenangkan dari dosa berarti kita memulai jalan menuju kekudusan.  Tentu saja hal itu membutuhkan tekad dan semangat yang kuat sebab seringkali kenikmatan dosa selalu membayangi.  Rasul Paulus mengingatkan melalui ayat 23 “Upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal”.  Rasul Paulus memberikan pengertian bahwa maut adalah upah dari perbuatan dosa kita, sedangkan hidup yang kekal adalah karunia (pemberian cuma-cuma) dari Allah.  Jadi, hidup kita yang memiliki jaminan hidup kekal ini adalah karunia Allah yang menuntut tanggungjawab agar kita tidak lagi menyerahkan diri kepada dosa.

Refleksi
Mari kita renungkan:  hamba siapakah diri kita?  Dalam pekerjaan, keluarga, bermasyarakat,  kehidupan bergereja; sudahkah kita menjadi hamba Allah yang sudah sepenuhnya menyerahkan diri pada otoritas tunggal Allah ?  Atau kita hanya mengaku hamba Allah, tetapi sebenarnya yang kita layani adalah kenikmatan dosa.

Tekadku
Ya Tuhan ajarilah aku hari lepas hari selalu mengingat bahwa aku adalah hamba-Mu, tidak ada lagi waktu dalam diriku selain mengikuti perintah dan melayani-Mu.

Tindakanku
Hari ini aku mencoba membuat daftar tingkah laku yang menggambarkan aku hidup sebagai hamba Tuhan dan berusaha mewujudkannya dalam kehidupan sehari hari.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«