suplemenGKI.com

Bacaan : Markus 9: 42-50

JADILAH BERKAT BAGI SESAMAMU

 

PENGANTAR
Perkataan menjadi berkat bagi sesama bukanlah hal yang asing bagi kita, bahkan sering kali kita dengar baik di atas mimbar maupun di tempat-tempat lain. Namun pertanyaannya adalah sudahkah kita menjadi berkat bagi sesama kita? Kalau belum, apa yang kira-kira menghambat kita untuk menjadi berkat bagi yang lain?

PEMAHAMAN

Ay 42,            Apa yang menghambat kita untuk menjadi berkat bagi orang lain?

Ay 43-48,     Hal apa saja yang dapat menghambat kita untuk menjadi berkat?

Ay 43-48,     Apa yang harus dilakukan untuk dapat menjadi berkat?

Ay 49-50,    Prinsip hidup apakah yang harus kita pegang untuk jadi berkat bagi sesama?

                Sering kali kata menjadi berkat hanya menjadi sebuah “slogan” bagi orang percaya, mereka tidak berani mengintrospeksi diri sendiri dan mengubahnya menjadi lebih baik. Tuhan Yesus mengingatkan kepada murid-muridnya dan orang banyak untuk dapat menjadi berkat bagi sesamanya. Pertama, Tuhan Yesus mengajarkan cara pandang manusia (orang dewasa) untuk tidak meremehkan anak-anak kecil, bahkan untuk tidak menyesatkan anak-anak kecil. Anak-anak tidak boleh dianggap nomer dua apalagi sampai di sesatkan dengan pengajaran dari orang tuanya atau orang yang lebih tua.Dengan demikian anak-anak harus diperlakukan dengan baik supaya generasi berikutnya jugamenjadi generasi yang baik. Kedua, Tuhan Yesus mengajarkan untuk kita melihat diri sendiri, apakah kita ini sudah menyesatkan (memberikan pengajaranan yang tidak baik) orang lain? Bagian manakah dari tubuh kita yang menyesatkan orang lain? Apakah tangan, kaki, mata atau yang lain? Kalau kita menyesatkan orang lain dengan perantaraan anggota tubuh kita, berarti kita akan dicampakkan ke dalam neraka. Maka Yesus mengingatkan bahwa yang menyesatkan itu harus dibuang supaya kita masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kata “harus dibuang” diberi makna bertobat dan melalukan yang baik. Ketiga,Tuhan Yesus mengingatkan bahwa sebagai pengikut-NYA harus dapat menjadi garam bagi sekelilingnya. Memberikan pengaruh yang baik bagi kehidupan sekeliling kita. Keempat, Tuhan Yesus mengajarkan kepada pengikut-NYA bahwa kehadiran orang yang percaya harus membawa damai dengan orang-orang di sekelilingnya, bukan permusuhan ataukebencian dengan sesamanya.

Bagaimana dengan kehidupan kita sebagaiorang yang percaya? Bagaimanakah cara pandang kita terhadap anak-anak kecil? Sudahkah kita mengintrospeksi diri sendiri, sejauh manakah kita sudah menjadi berkat bagi sesama kita? Apakah kita sudah dengan baik menggunakan anggota tubuh kita, mata, tangan,kaki, mulut (perkataan) kita? Adakah orang-orang disekitar kita merasakan damai sejahtera dengan kehadiran kita?

REFLEKSI
Ambil waktu sejenak untuk merenungkan: Apakah saya sudah jadi berkat bagi banyak orang? Ataukah saya jadi batu sandungan bagi orang lain?

TEKADKU
Ya, Tuhan, seringkali kami berpikir bahwa apa yang kami lakukan selalu baik dan sudah baik, ampuni kami kalau kami tidak pernah mau mengintrospeksi diri sendiri, namun kami selalu berharap orang lain yang mengintrospeksi dirinya.

TINDAKANKU
Hari ini saya mau mengintrospeksi diri sendiri dan mencatat apa yang kurang dari saya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*