suplemenGKI.com

Lukas 18:9-12

MERASA BENAR

 

PENGANTAR
Hakekat doa adalah berkomunikasi dengan Allah yang kita percaya sebagai pribadi yang Maha Kuasa.  Hal utama yang harus kita sadari saat berdoa adalah kesadaran sebagai manusia ciptaanNYA dan Allah adalah sumber hidup kita.  Namun kenyataannya kita sering salah menempatkan diri dihadapan-Nya.  Bacaan hari ini mengajarkan bagaimana seharusnya kita menempatkan diri dihadapan-Nya.

PEMAHAMAN

  • Ayat 9-10: Apa yang ingin Tuhan Yesus ajarkan dari perikop hari ini?
  • Ayat 11-12: Bagaimana cara orang Farisi berdoa?

Dalam perikop yang kita baca, Tuhan Yesus ingin menyoroti mereka yang selalu MERASA BENAR dan memandang rendah orang lain.  Sebagai  ilustrasi, Tuhan Yesus mengambil  contoh dua orang yang sedang berdoa di Bait Allah yaitu orang Farisi dan pemungut cukai.  Kedua orang ini mewakili dua golongan masyarakat yang sanggat  bertolak belakang.  Orang Farisi mewakili kaum intelektual yang sangat memahami ajaran agama.  Pemungut cukai gambaran orang yang banyak berbuat jahat dan merugikan sesamanya.  Ayat 11-12, orang Farisi digambarkan berdoa menghadap kepada Allah dengan membawa ‘kebenaran’ dirinya sendiri. 

Ada tiga hal yang menjadi dasar orang Farisi MERASA BENAR:

Pertama, merasa tidak sama dengan orang lain karena tidak merampok, tidak berzinah (melakukan semua ketentuan hukum Taurat).  Orang Farisi merasa dirinya suci tidak berbuat dosa, lebih baik dari orang lain.  Tanpa disadari dia sudah menghakimi dan memandang rendah orang lain.  Kedua, berpuasa dua kali seminggu, dalam hal ini orang Farisi ingin mengatakan bahwa semua ketentuan agama sudah dia jalankan dan dia merasa menjadi orang benar di hadapan Allah.  Ketiga, sudah memberi sepersepuluh dari semua penghasilannya yang menjadi kewajibannya.  Dengan menyampaikan ini dalam doanya dia menyombongkan diri di hadapan Allah.     

Doa yang dilandasi dengan “Merasa Benar”, maka doa ini menjadi tidak berkenan di hadapan  Allah, karena saat kita merasa benar maka pada hakekatnya kita tidak lagi menempatkan  Allah sebagai tujuan doa melainkan hanya beroreintasi pada diri sendiri.

REFLEKSI
Bukankah kita juga sering terjebak pada pola pikir seperti orang Farisi yang  MERASA BENAR?  Kita tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah, rajin ke gereja, rajin melakukan doa puasa dan tidak pernah lupa membayar perpuluhan.  Mari ingat bahwa semua hal baik yang kita lakukan menjadi tidak berkenan di hadapan Tuhan jika tidak didasari dengan KERENDAHAN HATI  dan PENGAKUAN bahwa  semuanya  mampu  kita lakukan karena PENYERTAAN ALLAH. 

TEKADKU
Tuhan tolonglah aku supaya saat aku bisa melakukan yang benar dihadapanMU, aku selalu menyadari bahwa semua itu karena PenyertaanMU dalam hidupku.

TINDAKANKU
Saat malam menjelang dan kuakhiri hari ini dengan satu pengakuan bahwa semua yang mampu kulakukan hari ini karena Kuasa Tuhan yang menolongku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«