suplemenGKI.com

Sabtu, 25 Maret 2017

24/03/2017

KETAATAN PADA SANG TERANG

Yohanes 9:1-11

 

PENGANTAR
Ketika berada dalam sebuah ruangan atau keadaan yang gelap, setiap orang pasti membutuhkan terang.  Yang pasti seseorang akan segera mencari ‘sumber’ terang yaitu alat yang bisa memberi terang, contoh: lampu, korek api, lilin, handphone, dll.  Perasaan senang dan lega jika telah menemukan ‘sumber terang’ sebab bisa melihat sekeliling dan melakukan aktifitas dengan baik.  Sesungguhnya, perasaan seperti itulah yang dimiliki orang yang buta sejak lahir dalam perikop ini.  Mari kita pelajari lebih lanjut bagian ini.

PEMAHAMAN

  • Ayat 2-4: Bagaimana pandangan masyarakat terhadap orang yang buta sejak lahir itu?
  • Ayat 3: Bagaimana pandangan Yesus atas keadaan orang buta itu?
  • Ayat 6-13: Bagaimana Yesus menyatakan kuasa-Nya agar orang buta itu melihat terang?
  • Apakah saudara mengalami bagaimana kuasa-Nya memberi terang dalam kegelapan hidup?

Dalam perikop ini menunjukkan bahwa seolah-olah secara kebetulan Tuhan Yesus dan para murid melihat orang buta sejak lahirnya.  Penglihatan itu membawa para murid bertanya penyebab kebutaan sejak lahir yang dialami, yang dikaitkan dengan dosa.  Sebab masyarakat melihat bahwa kebutaan yang dialami seseorang sejak lahir itu disebabkan karena dosa (ayat 2-4). Masyarakat menganggap bahwa penderitaan merupakan hukuman Allah sebagai akibat dari dosa yang dilakukan di hadapan-Nya.  Dalam kehidupan sehari-hari memang hal itu bisa benar, jika seseorang melakukan hal-hal yang merusak hidupnya.  Tetapi penderitaan dapat juga tidak ada hubungannya dengan dosa.

Dalam bagian ini Tuhan Yesus menyatakan kepada para murid bahwa penderitaan yang dialami orang buta ini bukanlah disebabkan oleh dosa.  Tuhan Yesus melihat rencana yang lebih besar. Penderitaan yang dialami orang yang buta sejak lahir itu akan menjadi sarana untuk menyatakan pekerjaan Allah (ayat 3).  Maka, Yesus meludah ke tanah, dan adukan tanah bercampur ludah disapukan pada mata orang buta (ayat 6). Lalu Tuhan Yesus memerintahkan orang buta ini pergi ke kolam Siloam untuk membersihkannya (ayat 7) dan sembuhlah orang buta itu.  Dia bisa melihat dengan terang.  Yang jelas bukan air kolam Siloam yang mencelikkan mata orang buta ini, melainkan perkataan Tuhan Yesus.  Yang Dia minta adalah ketaatan pada perkataan-Nya sebagai bukti dari iman yang memberi kesempatan bagi Dia menyatakan kuasa-Nya. 

Dalam hidup, barangkali kita pernah atau sedang atau akan berada pada situasi gelap, menghadapi persoalan berat yang datang secara tiba-tiba.  Sesungguhnya Sang Sumber Terang itu selalu ada di dekat kita, siaga memandu langkah agar kita tidak tersesat.  Kuasa-Nya bisa mengatasi segala sesuatu dalam hidup.  Yang Dia minta adalah taati perkataan-Nya yang memberi panduan atau arahan itu.

REFLEKSI
Mari merenungkan,ketaatan pada perkataan-Nya merupakan bukti iman kepada-Nya.  Maka, iman berarti memberi kesempatan bagi Dia untuk menyatakan kuasa-Nya dalam hidup.

TEKADKU
Tuhan tolong aku agar mentaati perkataan-Mu sebagai bukti imanku kepada-Mu. 

TINDAKANKU
Aku mau taati perkataan-Nya sebagai bukti imanku, sehingga kuasa-Nya menjadi nyata dalam hidup.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«