suplemenGKI.com

LUKAS 16:19-26

BELAJAR MEMILIKI KEPEDULIAN

 

Pengantar

 

Memiliki harta kekayaan bukan merupakan suatu dosa. Menikmati kekayaan yang dimiliki juga bukan sebuah kesalahan selama menikmatinya dengan cara yang positif. Namun karena kekayaan seseorang jatuh dalam kesombongan dan tidak peduli dengan sesamanya, maka hal itu menjadi persoalan serius. Teks bacaan pada hari ini hendak menyampaikan kisah tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin.

Pemahaman

Ayat 19-21        Bagaimanakah kondisi kehidupan orang kaya dan Lazarus?

Ayat 22-26       Seperti apakah kondisi keduanya ketika meninggal? Mengapa orang kaya itu sengsara di alam maut?

Lukas menceritakan kehidupan dua anak manusia yang berbeda status sosialnya. Yang satu adalah orang kaya, hidupnya berkelimpahan dan setiap hari ia hidup bersukaria dalam kemewahan (ayat 19).  Sedangkan yang lain bernama Lazarus, hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Lazarus berbaring dekat dengan tempat tinggal orang kaya itu (ayat 20-21). Jika memperhatikan teks dengan seksama dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa Orang kaya itu sama sekali tidak peduli dengan keadaan Lazarus. Karena pada masa itu kemiskinan dianggap sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja dan memang Allah sudah menetapkannya demikian.

Ketika keduanya meninggal Lazarus dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham, sedangkan orang kaya itu menderita sengsara di alam maut (ayat 22-23). Bagian ini janganlah ditafsirkan sebagai sebuah pengharapan bahwa orang yang miskin di dunia akan masuk Sorga dan sebaliknya orang kaya akan masuk neraka. Ayat 22-23 harus dipahami sebagai sebuah bentuk peringatan bagi setiap orang yang tidak memperdulikan sesamanya. Orang kaya itu hidup dalam kemewahannya dan tidak memperdulikan sesamanya yang menderita (ayat 25). Dia menutup mata terhadap kondisi Lazarus yang terbaring di dekat pintu rumahnya.

Melalui cerita ini Yesus hendak mengajarkan kepada setiap orang betapa pentingnya memiliki hati yang peduli terhadap sesama. Yesus tidak mempersoalkan banyaknya materi atau kekayaan yang kita miliki. Bagi Yesus yang terpenting adalah bagaimana kita mengucapsyukur atas segala sesuatu yang kita miliki dengan memperlihatkan kepedulian kepada mereka yang miskin dan hidup dalam penderitaan.

Teks bacaan pada hari ini mengajarkan kepada kita pentingnya memiliki sikap kepedulian kepada sesama. Dalam situasi dan kondisi sosial seperti sekarang ini sikap peduli menjadi sesuatu yang langka dan jarang kita temui. Membangun kepedulian bisa dimulai dari keluarga kita. Dimana setiap anggota keluarga belajar memperlihatkan perhatian dan kepedulian. Orangtua juga harus mulai mendidik dan mengajari anak-anaknya untuk memiliki sikap peduli terhadap sesama.

Refleksi
Sudahkah kepedulian terbangun dalam kehidupan keluarga kita? Sudahkah kita memperlihatkan kepedulian kita kepada sesama?

Tekadku
Mampukan kami ya Allah untuk membangun kepedulian dalam keluarga, persekutuan dan masyarakat sekitar.

Tindakanku
Belajar memberi perhatian kepada anggota keluarga. Belajar memberikan perhatian kepada sesama di persekutuan. Belajar memberi perhatian kepada tetangga. Belajar memberi perhatian kepada mereka yang hidup dalam kemiskinan

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*