suplemenGKI.com

KASIH YANG TULUS

Roma 12:9-21

 

Pengantar
Seorang teman pernah menceritakan pengalaman kekecewaannya pada orang lain. Ketika ia duduk di bangku Perguruan Tinggi, ia memiliki geng atau kelompok pertemanan khusus. Awalnya komunikasi dalam kelompok itu berjalan dengan baik, mereka selalu memiliki waktu untuk bertemu di berbagai tempat. Teman saya adalah seorang yang sangat baik hati. Ia sering membantu orang lain yang berada dalam kesulitan. Bahkan ia tak merasa sayang jika harus berbagi pakaian, makanan, dan uang pada orang lain. Akan tetapi ketika ia mengalami kesulitan keuangan dan persoalan keluarga, tak satupun anggota kelompok pertemanannya datang untuk menguatkannya. Ia menyadari bahwa pertemanan yang dibangun ternyata hanya berdasarkan kebutuhan, bukan kasih dalam segala situasi dan kondisi. Saudara, saling mengasihi adalah sikap yang harus dimiliki oleh umat percaya. Namun, apa yang terjadi jika kasih itu tidak dilakukan dengan tulus atau pura-pura?

Pemahaman

  • Ayat 10-21    : Apa wujud tindakan kasih yang harus dilakukan oleh jemaat di Roma?
  • Ayat 9             : Mengapa Rasul Paulus meminta mereka untuk mewujudkannya?

Roma 12 merupakan nasehat-nasehat praktis yang diberikan oleh Rasul Paulus setelah ia banyak menjelaskan tentang inti pengajaran Kekristenan pada pasal-pasal sebelumnya. Di dalam Roma 12:10-21, Rasul Paulus menasehatkan jemaat di Roma untuk mewujudnyatakan kasih melalui berbagai tindakan, yaitu giat melayani Tuhan, bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, bertekun dalam doa, saling membantu satu sama lain, saling menguatkan, berbuat kebaikan, hidup dalam perdamaian, dan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Jika diperhatikan lebih lanjut, maka nasehat kasih yang diajarkan oleh Paulus akan menuntun jemaat di Roma untuk hidup dalam kasih kepada Allah, sesama, dan diri sendiri.

Rasul Paulus memberikan nasehat itu bukanlah tanpa alasan. Di ayat 9, Paulus mengawali dengan kalimat, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura!” Ternyata kondisi pada saat itu adalah banyak orang-orang Kristen yang menjalankan kasih dengan pura-pura. Mereka ingin dipandang baik, ingin diterima dan dihargai, sehingga mereka menutupi keburukan masing-masing dengan berbuat kasih. Oleh karena itu, jika kasih dilakukan dengan pura-pura, maka akan merusak persekutuan umat Allah. Masing-masing akan saling melindungi diri sendiri hanya demi sebuah pengakuan dan akan timbul sikap saling curiga. Dengan demikian kita perlu memahami lebih dalam bahwa kasih itu bukan sebagai formalitas belaka atau aktualisasi diri, namun harus dilakukan dengan ketulusan agar dapat memuliakan nama-Nya.

Refleksi
Sikap manakah yang cenderung saudara miliki ketika telah dilukai oleh orang lain: ingin membalas, berdiam diri namun dendam, ataukah dengan rela hati mau mengampuni mereka? Saudara, sikap mengasihi akan sangat mudah dilakukan pada orang yang juga mengasihi kita. Jika sampai saat ini kita masih melakukannya, maka kualitas kasih yang dimiliki sama halnya dengan kasih di luar kekristenan. Marilah kita belajar untuk melakukan kasih dengan ketulusan, sebagaimana kasih Allah yang tanpa batas hadir dalam hidup kita.

Tekadku
Tuhan, ajarlah aku untuk melakukan kasih dengan hati yang tulus, sebagaimana kasih tanpa syarat yang Engkau berikan kepadaku.

Tindakanku
Aku akan belajar untuk membuka hati, membuang segala kebencianku pada orang yang telah melukai hati:….. (sebutkan). Dengan demikian aku dapat mulai membuka kembali jalinan komunikasi yang telah renggang.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«