suplemenGKI.com

Lukas 23:33-43

 

Mengenal KRISTUS melalui PengorbananNya

 Mengingat diri kita sebagai umat tebusan Allah adalah suatu kebahagiaan serta kebanggaan. Bahagia karena telah dibebaskan dari cengkeraman dosa, dan bangga karena memiliki Allah yang begitu konkrit dalam mengasihi. Ibarat seorang raja, maka Allah kita adalah Raja yang rela mengorbankan diri untuk membebaskan rakyatnya. Namun kita takkan pernah dapat menghargai karya penebusan itu bila enggan mengingat bagaimana pengorbanan Sang Raja dalam menuntaskan karya-Nya tersebut.

 

Pertanyaan Penuntun:

  1. Apakah Saudara pernah berkorban untuk mendapatkan sesuatu? Atau adakah seseorang yang telah rela berkorban bagi Saudara?
  2. Pengorbanan Kristus di atas kayu salib sungguh luar biasa. Coba daftarkan penderitaan apa saja yang telah dialami Kristus dalam bacaan kita hari ini!
  3. Bila Kristus telah berkorban sedemikian rupa, pengorbanan apakah yang sudah dan akan Saudara lakukan bagi Kristus? Mengapa Saudara sebut hal itu sebagai pengorbanan? 

Renungan

Tatkala memikirkan pengorbanan Kristus, kadang pikiran kita hanya terpaku pada kayu salib saja. Akan tetapi bacaan kita hari ini memberikan gambaran yang rinci tentang pengorbanan Kristus. Sebuah gambaran yang patut kita renungkan agar lebih menghayati karya kasih-Nya yang begitu luar biasa itu.

Lukas menjelaskan bahwa Kristus dibawa ke sebuah tempat yang bernama  “Tengkorak”. Sebagian orang berpendapat tempat ini disebut tengkorak karena memang ini adalah tempat orang dihukum mati. Sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa nama ini dipakai karena bukit Golgota itu memang bebatuannya mirip tengkorak-tengkorak manusia. Manapun pendapat yang benar, apalagi bila keduanya benar, hal itu memberikan gambaran betapa mengerikan tempat itu. Kita seringkali mengatakan, “Kristus lahir di tempat yang hina”. Sesungguhnya kematian Kristus terjadi di tempat yang lebih hina lagi. Kehinaan itu bukan hanya karena tempatnya, tetapi juga karena caranya. Salib adalah tanda penghukuman yang hina, baik bagi orang Yahudi maupun orang Yunani. Kristus yang begitu mulia itu telah mati dengan cara yang hina, di tempat yang hina, bersama-sama dengan 2 (dua) penjahat – orang yang dianggap hina oleh masyarakat.

Penghinaan yang dikenakan kepada Kristus bukan sekadar secara simbolis belaka, yaitu melalui tempat dihukumnya, cara dihukumnya serta bersama siapa Ia dihukumnya, akan tetapi juga melalui tindakan-tindakan nyata. Para pemimpin mengejek-Nya sebagai Mesias gadungan, “biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” Para prajurit mengolog-Nya sebagai Raja bohongan, “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” Bahkan seorang penjahatpun menghujat-Nya.

Mengingat semua pengorbanan-Nya itu, apa yang sudah kita lakukan bagi-Nya? Sesugguhnya, sekalipun kita berikan seluruh hidup kita bagi Dia, hal itu tidak sepadan dengan pengorbanan-Nya. Celakanya kita sering merasa dirugikan oleh Allah, kita kadang merasa sudah memberi terlalu banyak bagi sang Raja kita. Kita terlalu pongah dengan apa yang telah kita lakukan bagi-Nya, padahal semua itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan apa yang sudah Dia lakukan bagi kita. Jangan ragu untuk lebih giat lagi bagi Sang Raja yang telah mengorbankan diri-Nya bagi kita.

Pengenalan yang tepat terhadap KRISTUS yang telah mengorbankan diriNya sebagai wujud kasih terbesar, pasti akan memotivasi kita untuk meneladaniNya

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*