suplemenGKI.com

“Berakar, Bertumbuh, Berbuah”

Pertanyaan Penuntun Pemahaman Alkitab

Jemaat Kolose sedang menghadapi ancaman masuknya ajaran-ajaran gnostik, ajaran yang merupakan gabungan filsafat Timur dan legalisme Yahudi. Kepada jemaat yang seperti inilah Paulus memberikan nasihat-nasihatnya agar orang-orang Kristen itu sendiri mengejar kedewasaan imannnya dalam Kristus. Bagaimana langkah-langkahnya?

  1. “… hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia”. Bagaimana Anda mengartikan kalimat Paulus ini?
  2. Bagaimana Anda mengusahakan agar diri Anda berakar, dibangun, dan bertambah teguh dalam iman di dalam Tuhan?
  3. Paulus sedang berbicara mengenai kedewasaan iman dan dibagian terakhir di ayat 7 ia berkata, “hendaklah hatimu melimpah dengan syukur”. Apakah ada hubungannya antara mengucap syukur dengan kedewasaan iman seseorang? Dimana letak hubungannya? Cobalah Anda renungkan nasihat Paulus ini.

Renungan
Paulus mengawali nasihatnya dengan menegaskan bahwa semua pertumbuhan iman memiliki titik berangkat yang sama yaitu bahwa kita telah dimiliki dan memiliki Kristus dalam hidup kita. Sebagai orang yang telah menerima Kristus, hidup kita harus tetap di dalam Dia. Kata “tetap” yang dimaksudkan Paulus berasal dari istilah bahasa Yunani yang berarti “berjalan” atau “dekat”, yang ditulis dengan penekanan arti pada suatu tindakan yang dilakukan secara terus menerus dan habitual. Dengan demikian, untuk dapat memiliki hidup yang tetap di dalam Dia, kita harus terus mengusahakannya dan tidak pasif. Iman kita haruslah iman yang kuat berakar pada Yesus itu sendiri, ibarat akar tanaman yang mencengkram tanah dengan kuat sehingga pertumbuhan yang terjadi adalah pertumbuhan yang kuat pula (teguh). Walau demikian, halangan dan rintangan tidak begitu saja pergi, sama seperti pohon yang kuat dan besar sekalipun tidak menyingkirkan hujan, angin, dan badai. Namun pohon itu akan tetap kuat, bahkan besarnya badai dan kuatnya angin/hujan makin menunjukkan kekuatan pohon itu sendiri. Demikian pula dengan kita pun akan kuat menghadapi halangan dan rintangan, dan kekuatan iman itu dinyatakan salah satunya adalah dengan adanya hidup mengucap syukur yang kontinu dalam diri kita, walau apa pun yang terjadi. Perenungan ini bukan hanya sekadar memberi tahu kita akan arti nasihat Paulus, tetapi lebih dari itu perenungan ini mengajak kita melihat seberapa besar usaha kita untuk membangun iman kita selama ini agar kita tetap berjalan dekat dengan Tuhan? Apa saja yang sudah kita lakukan dan bagaimana dampaknya kita rasakan dalam pergumulan hidup kita? Bukankah semakin kita menyadari bahwa hidup ini berat dan tidak mudah, semakin besar pula usaha kita untuk makin mendekat kepada Tuhan?

Semakin tinggi persoalan hidup Anda, semakin Anda merendahkan diri dengan

bertelut di hadapanNya

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*