suplemenGKI.com

Lukas 18:18-26

”Keangkuhan Adalah Faktor Penghalang Untuk Memperoleh Hidup Kekal”

Sebenarnya pertemuan antara TUHAN YESUS dengan pemimpin yang disebutkan dalam Lukas 18:18 itu diawali dengan sebuah suasana yang baik. Pemimpin itu datang dengan itikad yang amat mulia. Itu terlihat jelas dari pertanyaan yang dilontarkannya pada YESUS, “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”. Dari pertanyaan ini, kita dapat menangkap adanya kerinduan si Pemimpin untuk mendapatkan hal yang paling hakiki bagi manusia yaitu kehidupan kekal. Namun sayang ternyata pertanyaan dengan itikad baik tersebut tidaklah dibarengi dengan hasrat yang kuat untuk memperoleh kehidupan kekal itu.

Þ    Kualitas hidup macam apa yang sudah dijalani oleh si pemimpin ini? Apakah itu cukup berdampak bagi keselamatan jiwanya? (ayat 21)

Þ    Apa yang menjadi penghalang bagi pemimpin itu untuk meraih kehidupan kekalnya? (ayat 22-25)

Þ    Seperti halnya pertanyaan para murid, siapakah yang dapat diselamatkan? (ayat 26)

Renungan:

Renungan kita hari ini lagi-lagi berbicara tentang seorang yang sangat sulit merendahkan dirinya sehingga dia harus menelan pil pahit karena tidak dapat memperoleh hidup kekal yang disediakan ALLAH baginya.

Dari data-data yang dipaparkannya di hadapan YESUS, sungguh kita tak dapat menangkap adanya hidup yang tak berkualitas. Dia menyebut dirinya sebagai pelaku perintah ALLAH sejak masa mudanya. Itu berarti, dia adalah seorang yang tidak pernah berzinah, tidak membunuh, tidak mencuri, bukan seorang yang suka berdusta dan seorang anak yang sangat mengasihi orangtuanya. Mungkin ketika si pemimpin itu menceritakan tentang kualitas hidupnya, orang-orang yang mendengar akan berdecak kagum. Tapi YESUS tahu apa yang harus dilakukanNya untuk menguji keadaan rohani yang sesungguhnya dari Pemimpin itu. Lalu DIA melontarkan pernyataan, “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Dan kemudian Lukas 18:23 mencatat bahwa pemimpin itu begitu sedih dan tak sanggup memenuhi perintah YESUS. Di sinilah terlihat adanya sebuah kontradiksi. Jika memang benar seperti yang dikatakannya bahwa dia sangat mengasihi TUHAN ALLAH dan mengasihi sesamanya (Hukum ALLAH yang utama dan terutama), maka tak mungkin dia menjadi sangat keberatan ketika YESUS memerintahkan padanya untuk menjual hartanya dan mengikut DIA. Bahkan dia pasti akan menggunakan kesempatan yang masih ada untuk menunjukkan kasih pada sesama itu dengan cara berbagi. Begitu sulitnya pemimpin itu untuk meraih hidup kekal karena dia menempatkan harta duniawi lebih tinggi dari kedudukan ALLAH Yang Maha Tinggi ,Sang pemilik Kerajaan Sorga itu.

Dari kehidupan sang pemimpin ini kita dapat belajar bahwa saat kita menghargai ’dunia’ ini terlalu tinggi, sebenarnya kita tengah menjadi seorang yang ’angkuh’ di hadapan ALLAH dan merasa bahwa ALLAHpun masih kalah tinggi dengan hal-hal duniawi yang sedang mengikat kita. Jika kondisi ini terus terjadi dan tak ada itikad bagi kita untuk merendahkan diri di hadapanNya serta memohon belaskasihanNya, maka dapat dipastikan bahwa ending cerita kita pastilah tak jauh berbeda dengan pemimpin yang diceritakan dalam Lukas 18:18-26 ini.

”Hanya dengan membuka dan melepaskan segala macam ikatan keduniawian,

maka kita akan mendapatkan bagian dalam Kerajaan yang ALLAH sediakan.”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«