suplemenGKI.com

Sabtu, 23 Juni 2018

22/06/2018

KEBAIKAN DALAM ‘BADAI’

2 Korintus 6:4-10

 

PENGANTAR
‘Badai’ pasti akan selalu mewarnai kehidupan.  Tidak ada kehidupan tanpa diwarnai ‘badai’, sekecil apapun itu.  Contoh: suatu kali bisa saja terjadi tiba-tiba ada anggota keluarga yang sakit, di lain waktu ada sikap sinis dari teman sekantor karena iri hati dan ingin menjatuhkan atau lain kesempatan ada rekan sepelayanan yang tiba-tiba tidak mau lagi bekerjasama karena merasa tidak diterima pendapatnya.  Warna-warni ‘badai’ kehidupan secara nyata dialami Paulus, tetapi dalam ‘badai’ itu dia mengalami kebaikan yang nyata juga. Bagaimana mungkin?  Mari kita pelajari bersama.

PEMAHAMAN

  • Hal-hal baik apa saja yang dialami rasul Paulus dalam ‘badai’ hidup dan pelayanannya (ayat 8-10)
  • Apakah saudara pernah mengalami kebaikan dalam ‘badai’ hidup terjadi?
  • Apa yang saudara pelajari tentang Tuhan dalam ‘badai’ kehidupan itu?

Renungan hari ini merupakan lanjutan dari hari kemarin.  Ingat apa kunci rahasia rasul Paulus dalam menghadapi ‘badai’ hidup dan pelayanannya?  Rasul Paulus percaya adanya kasih karunia Allah yang menyertai dan kesadaran diri sebagai pelayan yang harus menunjukkan kualitas diri bersabar dalam ‘badai’.  Hari ini kita akan melihat kebaikan yang rasul Paulus alami karena telah menemukan dan menggunakan kunci menghadapi ‘badai’ itu.

Kesediaan Paulus bersabar dalam beragam kesesakan dan kesukaran hidup yang dialaminya, ternyata memampukannya untuk mengalami “hal yang terbalik” yang berwujud dalam hal-hal baik.  Seperti: ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai (ay.8b); sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal (ay.9a); sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup (ay.9b); sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati (ay.9c); sebagai orang yang berdukacita, namun bersukacita (ay.10a); sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang (ay.10b) dan sebagai orang tidak bermilik, sekalipun memiliki segala sesuatu (ay.10c).

Hal-hal di atas, menunjukkan adanya paradoks kehidupan yang dialami Paulus.  Sekalipun menderita, namun dia mengalami kebaikan.  Tentu saja, bukanlah otomatis terjadi.  Artinya, umat Tuhan tidak boleh bersikap menjadi pribadi yang “menikmati penderitaan” agar bisa merasakan kebaikan-kebaikan seperti rasul Paulus.  Bukan seperti itu!  Kebaikan dari penderitaan yang dialami Paulus, lahir dari sikap hidup yang konsisten bersabar dan memiliki integritas hidup yang berfokus melakukan yang baik (positif, membangun, berguna). Itulah rasul Paulus.  Apakah kita ingin mengalami kebaikan dalam ‘badai’ hidup?  ‘badai’ kehidupan yang Paulus alami merupakan kesempatan baginya untuk menunjukkan siapa Kristus di dalam dirinya, yaitu sebagai utusan Kristus untuk mewartakan Kabar Baik.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Kebaikan dalam ‘badai’ hidup bisa kita rasakan secara nyata disaat kita mampu bersabar dan memiliki integritas hidup yang berfokus melakukan yang baik (positif).

TEKADKU
Tuhan tolonglah agar aku bisa bersabar dan melakukan hal-hal yang baik (membangun, positif) di saat berada dalam ‘badai’ hidup.

TINDAKANKU
Kesabaran yang aku pelajari kemarin (tidak bersungut-sungut, mengeluh, mudah marah, dll) harus aku wujudkan secara nyata dalam tindakan yang baik (positif, membangun).  Hari ini aku akan memberikan ……… kepada ……..!

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«