suplemenGKI.com

Matius 17:1-9

TRANSFIGURASI, BEKAL ROHANI UNTUK MELAYANI

PENGANTAR
Yesus adalah seorang Guru yang peduli terhadap kebutuhan murid-murid-Nya, khususnya kebutuhan rohani mereka. Yesus tahu bahwa ketika mengambil bagian dalam karya-Nya, mereka akan menghadapi tantangan dan kesulitan yang tidak mudah. Karena itu, selain memberi teladan, Yesus juga membekali mereka dengan berbagai bentuk pengalaman rohani yang membuat mereka semakin mengenal Dia.

PEMAHAMAN

  • Ay. 1-3.  Perubahan apa yang terjadi pada rupa Yesus? Apa yang hendak diungkapkan melalui perubahan tersebut? (ay. 2). Mengapa Musa dan Elia muncul dalam peristiwa tersebut? (ay. 3).
  • Ay. 4.  Mengapa Petrus mengusulkan agar mereka membangun kemah?
  • Ay. 5-9.  Apa yang hendak diungkapkan melalui awan yang turun menaungi mereka? (ay. 5a). Apa yang dinyatakan oleh suara yang keluar dari dalam awan itu? (ay. 5b). Mengapa mereka tersungkur dan ketakutan? (ay. 6). Apa yang dilakukan Yesus terhadap mereka? (ay. 7-9).

Di atas gunung di mana Yesus membawa mereka, Petrus, Yakobus, dan Yohanes menyaksikan transfigurasi (perubahan rupa) yang terjadi pada diri Yesus: ”wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang” (ay. 2). Cahaya terang yang terpancar dari wajah dan pakaian Yesus adalah ungkapan kemuliaan-Nya. Ungkapan kemuliaan Yesus ini menegaskan perkataan-Nya kepada para murid-Nya mengenai kedatangan-Nya kembali di perikop sebelumnya (Mat. 16:28). Dengan kemuliaan seperti itulah Yesus akan datang kembali sebagai Raja. Demikian pula kehadiran Musa dan Elia (ay. 3), dua orang nabi yang mempunyai peran eskatologis. Musa adalah model seorang nabi akhir zaman (Ul. 18:18) dan Elia adalah model seorang nabi yang akan mempersiapkan jalan bagi kedatangan Mesias (Mal. 4:5-6, Mat. 3:1-3).

Suasana eskatologis itulah yang dirasakan oleh Petrus sehingga ia mengusulkan untuk membangun kemah, seperti yang biasanya mereka lakukan di hari raya Pondok Daun (Im. 23:42-43).  Hari raya Pondok Daun memiliki dua dimensi; dimensi historis: mengenang perjalanan mereka selama empat puluh tahun di padang gurun, dan dimensi eskatologis: menantikan akhir zaman di mana Allah mengumpulkan mereka kembali di tanah perjanjian.  Namun, sebelum Petrus selesai berkata-kata, Allah hadir dan menyatakan kemuliaan-Nya kepada mereka dalam wujud awan terang yang turun menaungi mereka, untuk mendeklarasikan jati diri dan karya Kristus, ”Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” (ay. 5). Melihat dan mendengar suara Allah secara langung membuat mereka bertiga tersungkur dan sangat ketakutan. Sampai di titik ini tujuan Yesus membawa mereka naik ke atas gunung itu telah tercapai. Ketiga murid itu telah melihat kemuliaan Kerajaan-Nya dan telah memahami lebih jelas jati diri dan karya Yesus sebagai Mesias. Karena itulah Yesus menyuruh mereka berdiri dan mengajak mereka turun dari sana.

REFLEKSI
Orang-orang yang diberikan kesempatan melihat kemuliaan-Nya adalah orang-orang yang dipanggil untuk mengambil bagian dalam karya-Nya. Demikian pula, orang-orang yang mengambil bagian dalam karya-Nya akan melihat kemuliaan-Nya.

TEKADKU
Tuhan, teguhkanlah hatiku untuk setia mengambil bagian dalam karya-Mu dan melakukan pelayanan tersebut dengan sepenuh hati.

TINDAKANKU
Hari ini dan besok, aku akan mendoakan lima orang yang aku kenal, khususnya rekan-rekan sepelayananku. Aku akan berdoa bagi keluarga, pekerjaan, dan pergumulan pribadi mereka.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*