suplemenGKI.com

Matius 1:18-25

 

Penyerahan Seorang yang Tulus Hati

 

Pengantar
Yusuf disebut sebagai seorang yang tulus hati. Untuk mendapatkan gambaran tentang ‘tulus hati’ ini, kita dapat membandingkan dengan beberapa terjemahan. Terjemahan lama menyebut Yusuf sebagai seorang yang lurus hati. Sedangkan Firman Allah yang Hidup, memakai istilah seorang yang menjunjung tinggi tata susila. Sementara itu, Bahasa Indonesia Sehari-hari menyebut Yusuf sebagai seorang yang selalu mentaati hukum agama. Dari perbandingan ini kita melihat bahwa ketulusan hati ini terkait dengan menerapkan hukum. Lalu, bagaimana Yusuf menerapkan hukum dalam kehidupan sehari-hari? Mari kita renungkan bersama.

Pemahaman
-          Seandainya kita berada pada posisi Yusuf, bagaimanakah perasaan kita bila mengetahui tunangan kita berbadan dua?

-          Sebagai seorang yang tulus hati, tindakan apa yang diambil oleh Yusuf ketika mendapati bahwa Maria, tunangannya, mengandung?

Perasaan marah, terluka, dikhianati, terhina, dan berbagai perasaan serupa mungkin akan berkecamuk di dalam diri kita bila mengetahui bahwa tunangan kita tengah berbadan dua. Dengan mempertimbangkan semuanya itu, sesungguhnya Yusuf dapat mencemarkan nama Maria di depan umum. Sebab menurut hukum Taurat, seorang gadis yang sudah bertunangan lalu berbuat sundal, maka ia harus dilempari dengan batu sampai mati (Ul. 22:23-24). Namun Yusuf tidak mau mengambil langkah ini. Hal itu tidak berarti belas kasihan Yusuf melampaui keadilan yang dituntut Taurat, melainkan Yusuf – di dalam segala keterbatasan pengetahuannya akan duduk persoalannya – memilih untuk menempatkan kasus ini dalam konteks Ulangan 22:26-27, yang mengisahkan tentang perawan yang tidak perlu mendapatkan hukuman bila persetubuhan itu tidak dikehendaki oleh perempuan itu. Di sini kita melihat bagaimana sikap Yusuf yang tidak langsung menilai Maria secara negatif, melainkan menempatkan Maria sebagai korban. Karena itu maka diambillah jalan tengah sebagai solusinya, yaitu menceraikan secara diam-diam. Cara bijak yang dirancang Yusuf itu adalah dengan memberikan surat cerai kepada Maria di hadapan dua orang saksi, dan dengan demikian masalah ini dapat disimpan di antara mereka sendiri saja.

Untuk dapat melakukan hal seperti ini, Yusuf harus mengambil satu tindakan yang berangkat dari keyakinan kuat bahwa bila memang Maria telah berbuat dosa, maka Tuhan yang akan bertindak atas Maria, bukan dirinya. Yusuf tidak memandang kesalahan dan dosa sesama sebagai alasan untuk melakukan dosa yang lain.

Refleksi
Betapa sering kita terseret ke dalam kemarahan pada waktu seseorang melukai hati kita. Di dalam kemarahan dan berbagai bentuk emosi sejenisnya itu kemudian tanpa sadar kita telah melakukan dosa yang lain. Kita akan terbebas dari godaan semacam itu bila menjalani hidup ini dengan berserah kepada Tuhan, menyerahkan pembalasan itu kepada-Nya, Allah yang maha bijaksana.

Tekad
Doa: Ya Tuhan, tolonglah saya untuk belajar memiliki hati yang tulus, agar dapat melakukan kebenaran dalam segala situasi. Amin.

Tindakan
Berdoa bagi orang yang sudah melukai hati kita, merupakan tindakan konkrit yang dapat kita lakukan terkait dengan saat teduh hari ini.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*