suplemenGKI.com

Sabtu, 21 April 2018

20/04/2018

KATA CERMINAN DIRI

Yohanes 10:1-10

 

PENGANTAR
Bagaimana seseorang bersikap kepada orang lain tercermin dari pilihan kata atau kalimat yang biasa ia gunakan dalam relasi dengan sesama.   Faktor inilah yang menentukan seseorang bisa  diterima atau tidak.  Kebenaran inilah yang menjadi pokok renungan kita hari ini. Mari kita baca dan renungkan! 

PEMAHAMAN

  • Ayat 3-5          : Apa perbedaan dan persamaan dua figur gembala?
  • Ayat 4b-5        : Dari hal apa domba ‘membedakan’ dua figur gembala tersebut?
  • Apakah menurut saudara ada hubungan antara kata dengan kepribadian diri?

Ungkapan Jawa, “Ajining diri soko lathi” (Indonesia:  harga diri seseorang dari tutur katanya)  mungkin tepat menggambarkan bacaan hari ini.  Artinya, orang lain akan menilai kita tergantung bagaimana kita bertutur kata.  Jika kita sering bicara kasar/halus, maka orang lain akan mengenal kita sebagai orang kasar/halus.  Meskipun beda konteks persoalan dan pemakaian, tetapi titik tekannya sama, yaitu kualitas ucapan mencerminkan jati diri seseorang.  Terkait dengan perikop, “domba-domba mengikuti” atau “malah mereka lari” juga ditentukan oleh “suara” (ay.4, 5) yang memanggil, yaitu para gembala:  asli atau palsu.  Setiap gembala umumnya mempunyai suara dan cara memanggil yang khas sehingga domba-domba ‘mudah’ mengenali tuannya.  Apabila suara dan cara memanggilnya berbeda, domba-domba tidak akan mencari, apalagi mendekat ke sumber suara.  Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk menjelaskan perbedaan antara pelayanan-Nya (ay.14-18) dengan para pemimpin Yahudi.  Sama seperti “suara” asing yang membuat domba-domba  “lari” (ay.5), demikian juga dengan sikap dan kehidupan para pemimpin Yahudi yang lebih menyenangi “pertentangan” (ay.19) daripada menggembalakan umat Israel.  Mereka lebih sibuk berdebat sesat tidaknya ajaran Yesus sebagai alibi untuk menutupi kelemahan pelayanan mereka sendiri. Wajar bila Israel pun menolak dan tidak mau mendengar mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari ada pribadi yang terkadang kurang mampu menjaga perkataannya.  Mereka seolah tanpa beban mengatakan apapun kepada siapapun.  Bahkan tampak dengan sengaja bermaksud melukai hati sesamanya.  Akibatnya,  mudah terjadi konflik sehingga suasana persekutuan tidak nyaman.  Sebaliknya, ada pula yang berpura-pura melalui kata.  Berkata manis hanya untuk diterima.  Bermain kata sekadar untuk mendapat pengakuan sesama.  Yesus menentang praktik hidup semacam ini.  Melalui perumpamaan-Nya,  Yesus mengajarkan kepada para pendengar untuk memiliki hidup yang berbeda dibanding para pemimpin Yahudi.  Sikap hidup yang menimbang kata sebelum bicara.  Sikap hidup yang menuntun sesama.  Sikap hidup yang menjaga hati orang lain.

REFLEKSI
Mari merenungkan: mari kita belajar menjaga dan mengatur kata dalam bicara. Sebab kata mencerminkan diri di depan Tuhan dan sesama.

TEKADKU
Tuhan tolonglah agar Engkau membantuku untuk bisa menjaga dan mengatur kata dalam bicara, agar kehadiranku bagi sesama meneduhkan hati bukan sebaliknya membuat gundah hati.

TINDAKANKU
Hari ini aku bertekad lebih tenang dan menata ketika berbicara kepada siapapun.  Berpikir dulu sebelum bicara agar orang-orang di sekitarku merasakan damai melalui kata-kataku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«