suplemenGKI.com

Kunci Keberhasilan dalam Mengalami Kemerdekaan

Yohanes 6:67-71

 

Pengantar

Kalau kemarin kita merenungkan “mengalami kemerdekaan” dari sudut hambatannya, yaitu dari pengalaman para murid yang meninggalkan Kristus, maka hari ini kita akan merenungkan “mengalami kemerdekaan” dari sudut keberhasilannya, yaitu dari pengalaman kedua belas murid Kristus.

Pemahaman

-   Menurut Saudara, mengapa Tuhan Yesus bertanya kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (ay. 67). Apakah karena Tuhan Yesus sedang kecewa, marah, atau……?

-   Apakah maksud dari perkataan Simon Petrus, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi?” di ayat 68? Apakah hal itu berarti kedua belas murid itu mengikut Kristus karena tidak ada pilihan lain?

Setelah kepergian murid-murid yang mengundurkan diri serta tidak lagi mengikut Kristus, Tuhan Yesus bertanya kepada kedua belas murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (ay. 67). Hal ini bukan karena Tuhan Yesus sedang galau, karena kecewa ditinggal pergi belasan atau mungkin malah puluhan pengikut-Nya. Pertanyaan Tuhan Yesus itu bukanlah pertanyaan yang keluar dari hati yang sedang marah serta seakan “mengusir” kedua belas murid-Nya itu, melainkan sebuah pertanyaan untuk menantang keteguhan iman kepercayaan kedua belas murid tersebut. Sebab pertanyaan Tuhan Yesus itu adalah pertanyaan retoris, yang di dalam Alkitab terjemahan Bahasa Indonesia sehari-hari diterjemahkan demikian, “”Apakah kalian juga mau meninggalkan Aku?” Jawaban dari pertanyaan tersebut sebenarnya juga sudah terkandung di dalam pertanyaan itu sendiri. Dan jawaban itulah yang kemudian dipertegas dengan jawaban lisan rasul Petrus.

Kalau Petrus berkata, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi?” hal itu bukan karena Petrus – dan kesebelas murid lainnya – terpaksa mengikut Kristus karena tidak memiliki pilihan lain. Sebab di kalimat berikutnya Petrus berkata, “Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal”. Perkataan Petrus ini menunjukkan keteguhan imannya, bahwa apa yang diajarkan Tuhan Yesus adalah suatu kebenaran yang menuntut ketundukan diri. Berdasarkan kesadaran itulah maka kita dapat melihat sikap yang berbeda dari kedua belas murid, dibandingkan dengan sikap yang ditunjukkan oleh murid-murid lain di ayat 66. Murid-murid yang lain itu meninggalkan Kristus karena mereka tidak mau menundukkan diri serta mengakui bahwa apa yang disampaikan Kristus adalah perkataan yang menghidupkan dan bernilai kekal. Mereka tidak mau tahu dan tidak mau percaya bahwa Kristus adalah Yang Kudus dari Allah, sebagaimana yang dipercayai oleh kedua belas murid (ay. 69).

Refleksi (kontemplasi):

Pengakuan Petrus “Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” adalah suatu pernyataan iman yang seharusnya terus menggema di dalam kehidupan kita. Itu adalah pengakuan yang juga harus muncul dalam tutur kata dan perbuatan kita. Sejauh mana kita sudah menundukkan diri atas kebenaran Firman Tuhan selama ini?

Tekadku:

Doa: Bapa surgawi, tolonglah saya untuk terus mengakui otoritas kebenaran Firman-Mu di dalam kehidupan ini, sehingga kami hidup di dalam kepatuhan. Amin.

Tindakanku:

Saya akan menghafal Mazmur 119:105, atau menyanyikan PKJ 255, “Firman-Mu Kupegang Selalu” untuk mengingatkan diri sendiri agar terus tunduk pada kebenaran Firman Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«