suplemenGKI.com

Sabtu, 20 Juni 2015

19/06/2015

Markus 4:35-41 (lanjutan)

TIDAK REAKTIF, TAPI KONSTRUKTIF

PENGANTAR

Menerima teguran atau tuduhan dari orang lain tidaklah mudah. Apalagi jika yang menegur atau menuduh itu adalah mereka yang statusnya lebih rendah dari kita, seperti anak-anak kita atau karyawan kita.Jika mereka menegur atau menuduh kita – terlepas dari benar atau tidaknya hal itu – kita cenderung bersikap reaktif. Sikap reaktif adalah sikap spontan yang kita lakukan sebagai jawaban atau balasan atas apa yang orang lain katakan atau lakukan kepada kita. Biasanya, kita akan langsung membantah teguran atau tuduhan tersebut tanpa lebih dahulu memahami apa yang sesungguhnya mereka rasakan dan pikirkan.Yesus juga pernah mendapat teguran dan tuduhan yang cukup keras dari para murid-Nya. Bagaimana Yesus menanggapinya?

PEMAHAMAN
Dalam keadaan panik menghadapi taufan dan ombak yang dahsyat, para murid menemui Yesus sedang tidur di buritan. Mereka pun membangunkan Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (ay. 38)

Ay. 39   Bagaimana reaksi Yesus menanggapi sikap dan kata-kata para murid yang menuduh-Nya tidak peduli terhadap mereka? Apa yang Yesus lakukan?

Ay. 40   Bagaimana Yesus menegur para murid-Nya? Apa yang dapat kita pelajari dari cara Yesus menegur para murid-Nya?

Ay. 41    Bagaimana reaksi para murid setelah mereka melihat apa yang Yesus lakukan? Apa yang mereka pelajari dari peristiwa ini?

Meskipun mendapatkan teguran yang cukup keras dari para murid-Nya, Yesus tidak langsung menjawab mereka dengan kata-kata. Yesus tahu bahwa mereka bersikap demikian karena panik karena taufan dan ombak yang menyerang mereka. Karena itu, hal yang lebih dahulu Yesus lakukan adalah meredakan taufan dan ombak itu agar kepanikan para murid pun reda.

Setelah kepanikan para murid reda, Yesus pun mulai berbicara kepada mereka. Yesus menegur mereka, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Dua kalimat pendek ini sangat menolong para murid untuk melihat diri mereka sendiri. Pertama, Yesus mengajak mereka melihat ketakutan mereka yang muncul karena taufan dan badai yang menyerang mereka. Kedua, Yesus mengajak mereka melihat bagaimana ketakutan itu mengguncang iman mereka. Yesus menolong para murid mengatasi ketakutan mereka dan memulihkan iman mereka yang terguncang.

Di ayat 41 disebutkan bahwa mereka “menjadi sangat takut”. Tentu saja, ini adalah suatu bentuk perasaan takut yang baru, yang berbeda dari ketakutan mereka sebelumnya. Sekarang mereka tidak lagi takut oleh taufan dan badai yang dahsyat, namun takut terhadap Yesus yang dapat menaklukkan taufan dan badai tersebut. Ketakutan yang mereka rasakan sekarang tidak lagi menimbulkan kepanikan, melainkan rasa hormat yang mendalam kepada Yesus.

REFLEKSI
Menanggapi para murid yang menuduhnya tidak peduli, Yesus tidak bersikap reaktif. Ia memahami apa yang dirasakan para murid-Nya pada waktu itu. Ia mengajak mereka melihat keluar dari ketakutan mereka, lalu membangun iman mereka.

TEKADKU
Tuhan, berilah aku ketenangan dan hikmat agar aku mampu menolong orang-orang di sekitarku untuk keluar dari ketakutan mereka dan membangun iman mereka.

TINDAKANKU
Aku akan mendoakan seorang teman atau sanak keluarga yang sedang dilanda ketakutan oleh masalah yang sedang mereka hadapi.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«