suplemenGKI.com

Sabtu, 21 Juli 2018

20/07/2018

Efesus 2:18-22

GEREJA SEBAGAI PERSEKUTUAN KELUARGA ALLAH

 

Pengantar
Bagi kebanyakan orang menjalin hubungan baik dengan orang asing sering diwarnai sikap yang penuh curiga dan pikiran negatif. Tentu itu tidak terlepas dari situasi kehidupan sekarang ini yang marak akan kejahatan dan tindakan kriminal. Hal ini juga terkadang masuk dalam kehidupan persekutuan. Tidak jarang saat kita melihat orang yang ‘asing’ masuk dalam persekutuan kita, kita curiga dan penuh pikiran yang negatif. Keadaan seperti ini juga dialami dalam kehidupan jemaat di Efesus. Jemaat terbagi dalam dua golongan, orang berlatar belakang Yahudi dan bukan Yahudi. Jemaat yang berlatar belakang bukan Yahudi dianggap ‘asing’ bagi kebanyakan jemaat. Melihat kondisi ini, Paulus tentu tidak tinggal diam. Dalam perikop ini Paulus kembali mengingatkan hakikat jemaat Kristus sebagai bagian dari anggota keluarga Allah.

Pemahaman

Ayat 18-20     Menurut Paulus bagaimana seharusnya jemaat Efesus memandang satu sama lain di dalam persekutuan

Ayat 21-22     Apa yang terjadi jika kita hidup dalam persekutuan yang bersumber kepada Kristus?

Bagian bacaan kita kali ini merupakan kritik Paulus bagi persekutuan jemaat Efesus yang hidup dalam pengkotak-kotakan. Paulus mengingatkan bahwa saat kita semua hidup dalam sebuah persekutuan di mana Kristus sebagai dasar hidup lagi, semua kita adalah sama-sama anggota keluarga Allah. Tidak ada lagi yang ‘asing’ di dalam persekutuan. Kita semua hidup sebagai sebuah kesatuan di dalam Kristus. Tidak ada lagi yang Yahudi atau bukan Yahudi. Kita menjadi satu sebagai keluarga Allah (lih. ay. 19)

Gambaran keluarga yang digunakan Paulus memperlihatkan bahwa di dalam persekutuan pasti ada perbedaan, baik latar belakang, usia, pekerjaan, dsb, namun dipersatukan dalam satu ikatan yang erat di dalam Tuhan. Hidup dalam keluarga berarti kita hidup untuk saling mengasihi, saling peduli, saling memperhatikan, bertoleransi dalam setiap perbedaan yang ada.

Selain itu, Paulus juga mengingatkan bahwa sebagai persekutuan yang dibangun atas dasar kasih Kristus, setiap anggota jemaat dibangun untuk terus bertumbuh semakin berakar kepada Kristus dan hidup saling menopang sehingga persekutuan kita menjadi bangunan yang kokoh di mana di dalamnya setiap orang merasakan kasih Kristus.

Tulisan Paulus ini juga mengingatkan kita sebagai bagian dalam persekutuan umat Allah untuk hidup dalam kasih yang mempersatukan sehingga setiap orang merasakan kehadiran Kristus lewat kehidupan persekutuan kita.

Refleksi
Dalam keheningan, mari kita mengingat bagaimana kita hidup dalam persekutuan. Apakah kita sering menaruh curiga ada rekan dalam persekutuan kita? Sudahkah kita membuka diri kita untuk sungguh mengasihi rekan sepelayanan kita? Sudahkah kita hidup sebagai keluarga Allah dalam persekutuan kita?

Tekadku
Tuhan, tolonglah aku untuk terus mengingat panggilanku sebagai bagian dari keluarga Allah. Tolonglah aku untuk bisa menjadi pembawa kasih dan damai dalam kehidupan persekutuan di gereja dan di mana pun Tuhan menempatkanku.

Tindakanku
Aku mau berbagi kasih dengan orang-orang yang selama ini aku anggap ‘asing’ di dalam persekutuan dan aku juga mau lebih terlibat aktif di dalam pelayanan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«