suplemenGKI.com

Mengenal Allah yang Menggentarkan

Ibrani 12:18-29

Pengantar

Setelah berbicara mengenai pembangunan diri dan pembangunan komunitas, Penulis surat Ibrani melanjutkan dengan topik tentang Allah. Bagaimana sosok Allah yang dipaparkan, dan apa saja yang dapat kita pelajari bersama dari sosok tersebut, hal itulah yang akan menjadi perenungan kita bersama hari ini.

Pemahaman

Ayat 18 – 21        : Bagaimana Penulis surat Ibrani menggambarkan sosok Allah yang selama ini menjadi sesembahan bangsa Israel?

Ayat 22 – 24        : Mengapa Penulis memakai kata sambung “tetapi” ketika menghubungkan penjelasan dalam ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat 22?

Pada bagian akhir dari perenungan kemarin, kita melihat Penulis Ibrani sempat menyinggung hal kasih karunia yang dihubungkan dengan kekudusan. Kini, ia memberikan gambaran yang lebih konkrit tentang kekudusan Allah itu dengan menceritakan kembali pengalaman nenek moyang bangsa Israel, yakni pengalaman yang terjadi dalam perjalanan menuju tanah perjanjian. Kisah pengalaman nenek moyang bangsa Israel ini dapat kita baca di kitab Keluaran 19. Dalam kisah itu diceritakan bahwa Allah datang untuk memberikan sepuluh hukum kepada bangsa Israel melalui Musa. Allah meminta Musa untuk naik ke gunung, tetapi bangsa Israel tidak boleh mendekati gunung tersebut. Bahkan binatangpun tidak boleh. Pengalaman yang menggambarkan betapa kudusnya Allah itu menjadi pengalaman traumatik bagi bangsa Israel. “…sebab mereka tidak tahan mendengar perintah ini: “Bahkan jika binatangpun yang menyentuh gunung, ia harus dilempari dengan batu.” (ay. 20). Mau tidak mau, gambaran yang sedemikian ini menggoreskan kesan menakutkan.

Tetapi tujuan Penulis bukanlah membuat orang menjadi takut. Di dalam ayat berikutnya Penulis memberikan harapan. Dengan menggunakan kata sambung “tetapi” sebenarnya Penulis ingin menunjukkan kontras antara ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat 22. Penulis menegaskan bahwa kini, orang percaya sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, tidak lagi terhalangi dengan jurang perbedaan antara kekudusan Allah dan keberdosaan manusia, sebab sudah ada pengampunan melalui darah Kristus. Ini adalah kasih karunia! Karena itu jangan disia-siakan.

Refleksi

Tanpa menyadari keberdosaan kita, maka kita tidak akan mampu menghayati kasih karunia dari Allah yang kekudusan-Nya menghanguskan itu. Dan bila ini yang terjadi, maka kita akan memandang remeh kasih karunia Allah dan kurang bersyukur atas karya Allah yang mengijinkan kita mendekat kepadaNya itu.

Tekad

Doa: Tuhan, tolonglah saya untuk terus menyadari keberdosaan saya, sehingga saya dapat menghayati keagungan kasih karuniaMu. Amin.

Tindakan

Saya akan menyanyikan Kidung Jemaat 2, “Suci, Suci, Suci” untuk mengingatkan diri tentang kekudusan Allah

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«