suplemenGKI.com

BERSATU KITA TEGUH, BERCERAI KITA RUNTUH

Markus 10:2-12

 

Pengantar
Penyebaran virus corona bukan hanya berdampak di bidang kesehatan, tetapi juga terjadi segala lini kehidupan masyarakat. Menariknya, kasus perceraian pun juga mengalami penurunan. Salah satu sumber menyebutkan bahwa di awal penyebaran virus corona pada tahun 2020, terdapat 750 pasutri yang mengajukan gugatan cerai tertunda jalani sidang di Pengadilan Agama kelas I A kota Semarang. Ada begitu banyak pasutri yang kecewa akibat penundaan sidang cerai. Saudara, setiap manusia pasti menginginkan kehidupan pernikahan yang awet dan bahagia. Tetapi tak dapat dipungkiri bahwa selalu ada persoalan yang mengiringi perjalanan berumah tangga. Dalam kondisi demikian, kita diharapkan untuk dapat mempertahankan keutuhan rumah tangga dan sebisa mungkin menghindarkan diri dari ‘perceraian’.

Pemahaman

  • Ayat 2, 4        : Apa maksud kedatangan orang-orang Farisi pada Yesus? Bagaimanakah pandangan mereka tentang perceraian?
  • Ayat 5-9         : Bagaimanakah respon Yesus terhadap perceraian?

Markus 10:2-12 menceritakan tentang kedatangan orang-orang Farisi pada Yesus yang selalu iri dengan jangkauan pelayanan-Nya. Tujuan mereka tak lain adalah untuk menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang perceraian (ayat 2). Meskipun demikian, Yesus tidak terjebak dengan situasi tersebut. Jika pertanyaan orang Farisi adalah soal hukum yang boleh atau tidaknya seorang suami menceraikan istrinya, maka lain halnya dengan Yesus. Ia justru balik bertanya kepada mereka , “Apa perintah Musa kepadamu?” (ayat 3). Terkait akan hal itu, terdapat beragam pendapat tentang perceraian di kalangan orang Yahudi. Ada yang mengijinkan terjadinya perceraian dikarenakan istri kedapatan berzinah, sementara di sisi lain perceraian dapat dilakukan jika suami tidak senang kepada istrinya.

Yesus pun mengembalikan ke latar belakang perintah Musa, yang tertuang dalam Ulangan 24:1-4. Para orang Farisi pun menjawab bahwa Musa mengijinkan mereka untuk membuat surat cerai. Tetapi Yesus meluruskan pemahaman yang keliru dengan mengatakan bahwa Musa memberi perintah demikian karena ketegaran hati umat yang sewenang-wenang dengan pernikahan (ayat 5). Tujuan Musa memberi perintah ini adalah untuk melindungi hak perempuan dari perlakuan sewenang-wenang laki-laki Yahudi. Seorang perempuan yang diceraikan oleh suaminya, otomatis akan kehilangan segalanya. Tetapi dengan surat cerai, perempuan dimungkinkan untuk menikah kembali tanpa dicap berzinah. Atas dasar inilah, Yesus mengingatkan kembali bahwa sesungguhnya apa telah dipersatukan Allah, tidak dapat diceraikan oleh manusia dengan tindakan apapun, kecuali maut (ayat 7-9). Bagi Yesus, perceraian merupakan kegagalan manusia dalam meresponi inisiatif Allah yang sangat mengasihi umat-Nya.

Refleksi
Selalu ada pasang surut dalam kehidupan pernikahan. Ada kalanya merasakan bahagia, mengalami perbedaan pendapat, melewati pergumulan dengan tangis air mata, dan sebagainya. Keluarga bukanlah komunitas yang sempurna, karena setiap keluarga juga pernah berada pada kondisi yang rapuh dan membutuhkan anugerah Allah. Sudahkah kita melibatkan Kristus dalam kehidupan bersama pasangan dan seluruh anggota keluarga?

Tekadku
Tuhan, berikanku hikmat untuk dapat mengolah setiap kata dan perbuatan, agar kehidupan pernikahanku dapat dibangun berdasarkan anugerah cinta kasih-Mu.

Tindakanku
Aku akan berusaha menyelesaikan setiap persoalan di kehidupan pernikahanku dengan tidak mengutamakan emosi dan kekerasan, melainkan dengan rendah hati dan sikap terbuka satu sama lain.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«